Berlindung, Pintu Gerbang Memasuki Ajaran

Triratna, Objek Perlindungan Terunggul


Bagian yang kedua ini memiliki dua sub-bagian. Pertama, ‘mengenali apa saja objek perlindungan,’ kemudian ‘merenungkan alasan-alasan kelayakan mereka sebagai objek perlindungan.

Mengenali Objek Perlindungan

Kepada siapa kita Trisarana? Kita harus mengenali objek berlindung dan melihat kepatutan mereka sebagai objek berlindung. Pertama-tama, jika hanya ingin terlindungi dari salah satu aspek penderitaan, kita tidak perlu mengambil perlindungan dari keseluruhan Triratna. Hanya salah satunya sudah cukup. Di sisi lain, untuk mendapatkan perlindungan penuh dari semua penderitaan samsara secara umum dan alam rendah secara khusus, perlu untuk mengambil perlindungan dari semua Triratna.

Untuk memahami hal ini, ada analogi lain. Ketika sakit keras, kita membutuhkan seorang dokter, tetapi kita juga membutuhkan resep obat, berikut perhatian dari perawat. Kita membutuhkan ketiga unsur ini untuk menyembuhkan penyakit kita. Sebagai contoh, ketika sakit, jika tidak berkonsultasi kepada dokter, kita hanya mengobati diri sendiri, mengonsumsi obat dengan pemikiran bahwa itu mungkin akan membantu. Tidak ada jaminan bahwa itu akan menyembuhkan penyakit kita. Sebaliknya, jika bertemu dokter yang baik, akan tetapi dokter tersebut tidak memiliki obat, ini juga tidak cukup. Kita tidak akan sembuh karena didampingi oleh dokter saja tidak akan menyembuhkan sakitnya. Bahkan jika menghabiskan seumur hidup bersama seorang dokter, tetapi dokter tersebut tidak memiliki obat, itu tidak akan banyak berguna untuk kita. Jika kita memiliki dokter yang memberikan obat, tetapi kita tidak memiliki perawat untuk memastikan kita minum obat yang benar di waktu yang benar, untuk memberikan kita saran cara menjaga diri sendiri serta merawat kita, efek dari obat tidak akan maksimal. Ini misalnya yang membedakan antara kita dirawat di rumah sakit atau di rumah.

Kita merupakan pasien yang memiliki penyakit racun mental, yakni kemelekatan, kebencian, kebodohan dan kegelapan batin. Ini merupakan klesha. Kita juga memiliki akibat-akibat dari banyak karma negatif. Akibatnya adalah sakit dan penderitaan yang harus kita alami di samsara. Bisa dibilang kita-kita ini sakit keras. Untuk alasan inilah kita memerlukan ketiganya, yakni dokter, obat, dan perawat. Lebih lanjut, kita adalah makhluk yang telah sakit dalam periode waktu yang sangat lama. Kita telah sakit dalam samsara semenjak waktu yang tak berawal. Inilah mengapa, berdasarkan tradisi lisan para Geshe dari silsilah Kadam, kita digambarkan sebagai pasien yang tidak bisa disembuhkan.

Ini pulalah alasan mengapa kita membutuhkan dokter yang sangat ahli, dokter terbaik, seseorang yang sepenuhnya menyadari segalanya, semua yang perlu diketahui. Inilah mengapa kita mengambil perlindungan dari Buddha, pembimbing untuk berlindung, seseorang yang mengajari kita bagaimana memperoleh perlindungan.

Seperti yang telah dijelaskan, bahkan jika memiliki dokter yang sangat ahli, namun tidak memiliki obat, walaupun kita menghabiskan seumur hidup dengannya, itu tidak akan membuat kita menjadi sehat. Sama halnya, dengan Buddha tanpa metodenya, itu tidak akan menuntun kita memperoleh perlindungan, sembuh dari sakit kita. Inilah mengapa kita perlu untuk mengandalkan obatnya, yakni ajaran Dharma yang diberikannya, dengan berlindung yang sesungguhnya, obat sesungguhnya untuk menyembuhkan kita.

Untuk dapat menggunakan obat secara tepat, kita membutuhkan bantuan perawat untuk memastikan kita memperoleh perawatan yang tepat. Kita juga memerlukan bantuan untuk praktik berlindung dan praktik Dharma kita. Inilah fungsi Ratna Sanggha. Kita perlu mengambil perlindungan dari permata Sanggha juga. Ada beberapa cara Ratna Sanggha bisa membantu kita sebagai objek perlindungan. Ini terutama mengacu kepada Arya Sanggha yang telah mempraktikkan Ratna Dharma, hasil dari mencapai perlindungan dari penderitaan samsara karena mereka telah sepenuhnya terbebas dari penderitaan samsara. Mereka menjadi panutan, teladan terkait kita juga bisa mencapai perlindungan dari penderitaan samsara dengan mengikuti contoh mereka, yaitu mempraktikkan Dharma seperti yang telah mereka lakukan.

Ketika melihat teladan dari orang yang telah mampu membebaskan diri dari samsara dengan praktik Dharma, ini akan memberikan inspirasi kepada kita. Mengetahui dan melihat teladan dari orang yang telah mencapai hasil yang kita cari, mereka menjadi inspirasi dan model untuk diikuti. Ini juga bisa merupakan anggota Sanggha yang belum mencapai tingkat Arya, orang yang belum sepenuhnya membebaskan diri dari penderitaan samsara, tetapi seseorang yang telah mempraktikkan Dharma, membangkitkan kualitas Dharma, baik dalam kitab suci maupun realisasi dalam mereka, yang setidaknya melindungi mereka dari sebagian penderitaan samsara. Mereka juga bisa menjadi inspirasi untuk kita.

 

Ratna Buddha

Untuk menjelaskan secara singkat tentang Ratna Buddha, kita akan melihatnya dari dua sisi, yaitu aspek Dharmakaya dan Rupakaya.

Sekali lagi, Anda mungkin sedikit takut. Jika berbicara tentang Dharmakaya, apa maksudnya. Untuk memahaminya dalam istilah sederhana, kita dapat membandingkan dengan manusia biasa. Sebagai manusia, kita memiliki tubuh, pikiran, dan kualitas dalam pikiran sendiri. Sama halnya, Buddha memiliki pikiran, kualitas spesial dalam pikiran yaitu welas asih, pengetahuan, dan sebagainya. Kualitas Buddha tersebut merupakan aspek Dharmakaya. Ini juga terdapat aspek purifikasi, dengan kata lain, purifikasi dari semua aspek negatif dan kesunyataan dari batin Buddha, yang merupakan bagian dari Dharmakaya.

Kita memiliki tubuh, pikiran, jadi kita hanya merupakan siapa kita. Kita adalah orang dan individu. Jika kita mau meneruskan analogi ini dengan Rupakaya Buddha, yang disebut tubuh bentuk, ini tidak setara dengan tubuh kita. Ini setara dengan diri kita sebagai individu. Dengan kata lain, seorang Arya Buddha merupakan aspek Rupakaya dari Buddha.

Untuk tubuh bentuk, Rupakaya, terdapat dua jenis perbedaan. Nirmanakaya sebagai contohnya adalah Buddha Shakyamuni, dengan kata lain Buddha dalam bentuk biksu. Ada tubuh kenikmatan sempurna, dalam bahasa Sanskerta disebut Sambhogakaya, yaitu Buddha dalam bentuk para Istadewata seperti Awalokiteshwara, Manjushri, Wajradhara, dan sebagainya.

Terdapat juga perwujudan Triratna, baik berupa patung atau lukisan, yang merupakan gambar tubuh Buddha. Dengan kata lain, patung atau lukisan juga bisa menggantikan Ratna Buddha. Mereka bisa dijadikan pengganti karena Anda memperoleh manfaat yang sama ketika memberikan persembahan kepada gambar Buddha atau persembahan langsung kepada Buddha yang masih hidup.

Baca juga “Kualitas Buddha”

 

Ratna Dharma

Bagaimana dengan Ratna Dharma? Ratna Dharma terdiri dari kualitas atau pengetahuan yang merupakan bagian dari arus batin seorang Arya. Sebagai contoh, pemahaman tentang kesunyataan yang terdapat dalam batin seorang Arya adalah ilustrasi Ratna Dharma. Welas asih dan cinta kasih dan sebagainya di dalam arus batin seorang Arya juga merupakan bagian dari Ratna Dharma. Jadi, aspek purifikasi yang ada dalam batin seorang Arya, dengan kata lain kebenaran tentang terhentinya dukkha yang ada dalam batin seorang Arya, walaupun tidak lengkap, juga merupakan ilustrasi dari Ratna Dharma.

Baca juga “Kualitas Dharma”

 

Ratna Sangha

Ratna Sangha yang sebenarnya adalah pemahaman tentang kesunyataan atau ketanpaakuan dalam batin seorang Arya. Ini merupakan obat penawar untuk akar samsara. Jadi, Ratna Sangha adalah seorang Arya. Dengan kata lain, seseorang yang telah memahami secara langsung ketanpaakuan dan kesunyataan. Semua Arya adalah Ratna Sangha, yang merupakan objek perlindungan. Bila tidak terdapat seorang Arya, kehadiran empat orang biksu bukan Arya dapat menggantikan Arya. Kehadiran empat orang biksu juga bisa merupakan Ratna Sangha.

Sifat-sifat mulia yang ada dalam mereka yang bukan Arya, seseorang yang mengajar atau menjelaskan Dharma bisa menggantikan Ratna Dharma. Kualitas spesial dari batin non Arya, dengan kata lain, makhluk yang telah berada dalam jalan spiritual, baik makhluk yang berada di jalan akumulasi atau persiapan, dan seterusnya, yang belum merupakan seorang Arya, tetapi mereka memiliki kualitas spesial dalam diri mereka dan mereka telah memasuki jalan. Kualitas ini juga bisa menggantikan Ratna Dharma maupun teks-teks untuk mengajarkan atau menjelaskan Dharma.

Baca juga “Kualitas Sangha”

 

Kelayakan Tiga Permata sebagai Objek Perlindungan

Aspek kedua dari bagian yang berhubungan dengan objek perlindungan berkaitan dengan kelayakan mereka sebagai objek berlindung; mengapa mereka pantas untuk dipercaya? Untuk menjelaskan hal ini, kita akan membahas utamanya kualitas-kualitas Buddha. Mengapa Buddha pantas menjadi objek perlindungan? Ada empat alasan berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, Buddha pantas menjadi objek perlindungan karena Buddha sendiri telah mengatasi segala ketakutannya. Kedua, Buddha sepenuhnya terampil dalam menolong orang lain untuk membebaskan diri mereka sendiri dari ketakutan mereka. Ketiga, welas asih Buddha adil terhadap semua makhluk. Alasan keempat, Buddha akan membantu semua makhluk, baik mereka yang menyakiti maupun yang membantunya.

 

1. Buddha Sendiri Telah Bebas dari Semua Ketakutan

Alasan pertama mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan adalah karena mereka sendiri telah mengatasi seluruh ketakutan mereka. Jika belum, maka bagaimana Anda dapat sepenuhnya memercayai mereka? Misalnya, Anda ingin menolong orang lain, terutama mereka yang dekat dengan Anda. Ketika Anda melihat salah satu dari orang yang Anda kasihi, apakah itu orang tua Anda, anak-anak, atau sahabat baik yang sedang berada dalam masalah, Anda ingin melindungi mereka. Namun, karena belum mengatasi keterbatasan dan ketakutan Anda sendiri, maka kekuatan Anda terbatas. Misalnya, ketika orang-orang tersebut sakit, Anda tidak dapat melakukan lebih daripada hanya berkomunikasi dengan dokter dan memastikan orang tersebut mendapatkan perawatan terbaik dan sebagainya. Anda tidak sanggup melindungi orang tersebut dengan efektif dari penyakitnya karena ketakutan dan keterbatasan Anda sendiri yang belum diatasi. Lain halnya dengan seorang Buddha; Beliau telah sepenuhnya mengatasi segala keterbatasan dan ketakutannya, oleh karenanya benar-benar sanggup menolong orang lain dengan efektif. Seperti yang telah kita katakan, Anda mungkin memiliki seseorang yang Anda kasihi yang sedang sakit parah dan Anda melakukan yang terbaik untuk menjaga orang tersebut. Anda mungkin berdiam di samping ranjangnya berjam-jam setiap hari. Anda akan sanggup melakukan hal tersebut pada jangka waktu tertentu, namun akan tiba saatnya di mana Anda mencapai batas kemampuan Anda dan Anda akan mendapati diri Anda kelelahan sehingga harus berhenti. Ini disebabkan kekuatan Anda yang terbatas, karena seluruh penghalang dan ketidakbajikan yang menghalangi dan mengekang kapasitas Anda. Seorang Buddha, di sisi lain, telah sepenuhnya menyingkirkan seluruh penghalang dan ketidaksempurnaannya; hasilnya, kekuatan Beliau tak terbatas. Beliau telah mengatasi rasa takutnya sendiri dan tidak dapat disakiti oleh faktor eksternal apapun. Dalam Jataka, kisah kelahiran-kelahiran lampau Buddha, ada banyak cerita mengenai makhluk-makhluk yang mencoba menyakiti Buddha. Namun, serangan tersebut tidak dapat menyakiti Buddha langsung karena kesempurnaan Beliau. Oleh karena itu, alasan pertama mengapa Buddha layak dipercaya adalah karena mereka telah sepenuhnya mengatasi ketakutan dan keterbatasan mereka sendiri.

2. Buddha Mahir dalam Cara Membebaskan Orang Lain dari Segala Ketakutannya

Alasan kedua mengapa Buddha layak dipercaya adalah karena mereka sangat mahir dalam menolong makhluk lain mengatasi ketakutan mereka. Ini adalah kualitas yang harus ada. Jika seorang makhluk telah mengatasi segala ketakutan dan kesulitan pribadinya tapi tidak memiliki keterampilan untuk menolong yang lain, maka orang tersebut tidak layak menjadi objek perlindungan karena dia tidak akan berguna bagi yang lain. Tidak demikian halnya dengan Buddha; mereka tidak hanya telah mengatasi ketakutan mereka sendiri, tapi juga sepenuhnya mahir dalam menolong makhluk lain mengatasi ketakutan mereka.

Berhubungan dengan alasan pertama mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan. Seperti yang kita katakan, ada banyak cerita mengenai hal ini dalam Jataka, serta beberapa contoh dalam Pembebasan di Tangan Kita. Akan makan banyak waktu untuk merujuk ke teks-teks ini sekarang; karena itu, Anda bisa melihat hal ini di buku Pembebasan di Tangan Kita, karya yang lain, atau dalam Jataka. Untuk alasan kedua mengapa Buddha layak sebagai objek perlindungan (kenyataan bahwa mereka sangat terampil dalam menolong orang lain), juga ada banyak cerita yang menggambarkan bagaimana Buddha menggunakan kemahirannya yang besar untuk menjinakkan batin makhluk lain. Misalnya, bagaimana Beliau sanggup menggunakan cara-cara mahir untuk mengurangi kesombongan beberapa makhluk yang sangat sombong (bangga) dan mengubah hati mereka agar bisa menerima ajaran; bagaimana Beliau sanggup menolong makhluk lain yang simpanan kebajikannya sangat terbatas dan kemudian Beliau sanggup menggunakan kemampuan tersebut dan menolong mereka. Ada banyak cerita yang menjelaskan bagaimana Buddha menggunakan kemampuannya yang besar dan sanggup menolong makhluk lain.

Seperti yang dikatakan, ada banyak cerita yang menggambarkan kemampuan luar biasa Buddha dalam menolong orang lain dan ini ditemukan di dalam sutra. Misalnya, dalam kitab Pembebasan di Tangan Kita, ada beberapa cerita yang hanya disebutkan namun tidak menceritakan kisah yang lengkap. Oleh karena itu, saya akan menceritakan salah satu dari kisah tersebut, yang berhubungan dengan perumah-tangga tua bernama Srija. Srija hidup pada zaman Sang Buddha – dia memiliki banyak anak, anak-anaknya memiliki anak lagi dan anak mereka memiliki anak lagi. Oleh karena itu, dia memiliki keluarga yang besar sekali. Anak-anaknya memperlakukannya dengan baik, lain halnya dengan cucu dan cicitnya. Karena dia adalah seorang laki-laki tua, mereka tidak terlalu menghormatinya. Bukannya bersikap baik terhadapnya, mereka malah mengolok-oloknya dan seringkali memberinya banyak kesulitan. Jadi ini adalah sebuah cerita yang harus diperhatikan oleh Anda sekalian yang merupakan generasi muda!

Jadi, cucu-cucu dan cicit-cicit ini selalu mengerjai kakek atau kakek buyut mereka. Mereka menarik pakaiannya, menggelitiknya, atau menarik telinganya. Intinya tidak membiarkan dia hidup tenang. Suatu hari, lelaki tua Srija ini benar-benar muak dan mengatakan, ‘Saya tidak tahan lagi, tidak ada yang membiarkan saya hidup tenang. Saya tidak memiliki waktu untuk istirahat dan satu-satunya cara adalah dengan meninggalkan rumahku.’ Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah, melepas keluarganya, dan pergi menghadap Sang Buddha untuk menjadi anggota Sangha dengan mengambil pentahbisan. Demikianlah, dia meninggalkan rumah dan berangkat ke taman tempat Sang Buddha dan kelompok muridnya berdiam saat itu. Dia bertemu dengan salah satu murid utama Sang Buddha, Sariputra, yang menanyakan kepadanya apa yang dilakukannya di taman itu. Srija menjelaskan bahwa dia tidak tahan lagi tinggal di rumah dan ingin mengambil pentahbisan menjadi anggota Sangha. Sariputra berkata, ‘Sebagai anggota Sangha, Anda akan memiliki berbagai tugas yang harus dipenuhi. Anda harus belajar, meditasi, dan melayani anggota Sangha yang lain. Anda sudah tua sekarang, bagaimana mungkin Anda sanggup melakukannya?Tidak mungkin bisa.’ Tentu saja, perumah-tangga Srija sangat kecewa, tapi dia tidak menyerah karena dia kemudian pergi mencari arahat yang lain. Dia berpikir mungkin jika dia memilih arahat yang lebih tua, maka dia akan memiliki cara pandang yang berbeda. Jadi, dia pergi mencari arahat Kasyapa, tapi tentu saja dia mendapatkan jawaban yang sama; bahwa dia terlalu tua dan tidak mungkin baginya untuk bergabung dengan Sangha. Setelah mencoba beberapa arahat, dia benar-benar sangat kecewa dan frustasi dan mengatakan, ‘Apa lagi yang dapat kulakukan? Tidak ada dari mereka yang mau mendengarkanku.Tidak ada jalan lain. Saya tidak bisa pulang ke rumah dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah membunuh diriku sendiri!’ Dia memutuskan untuk meloncat ke sungai. Ketika dia telah sampai pada kesimpulan ini, di mana dia benar-benar frustasi dan berpikir untuk bunuh diri, Sang Buddha membaca pikirannya dan datang ke tempatnya berada, menanyakan apa yang terjadi. Srija menjelaskan bagaimana dia sebenarnya sangat menginginkan pentahbisan dan menjadi anggota Sangha; dan bagaimana semua orang di dalam sangha menolak permohonannya. Sang Buddha mengatakan, ‘Tidak masalah, mereka adalah pengikutku; mereka bukan Buddha. Tidak seperti diriku, mereka tidak menghabiskan tiga kalpa tak terbatas untuk mengumpulkan kebajikan. Oleh karena itu, meskipun mereka menolakmu, saya tidak akan.

Demikianlah, dia mengambil pentahbisan dan menjadi bagian dari persamuan Sangha. Namun setelah menjadi seorang biksu yang baru, dia mendapati dirinya berada di antara sramanera-sramanera yang lebih muda, yang berarti dia menemukan dirinya kembali pada situasi yang sama seperti dia berada di rumah. Biksu yang lebih muda senang mengerjainya, menarik pakaiannya, menarik telinganya dan membuatnya susah. Jadi, sekali lagi, mantan perumah-tangga ini frustasi. Dia mengatakan, ‘Tak peduli apapun yang kulakukan, tidak ada solusinya. Di rumah, cucuku membuatku susah. Sekarang bahkan setelah mengambil pentahbisan, sramanera yang muda tidak memberiku ketenangan. Saya benar-benar berada di situasi yang sama. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan dalam kehidupan sekarang ini karena saya terlalu tua. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain selain membunuh diriku sendiri.’ Jadi dia pergi ke tepi sungai besar dan melepaskan jubah monastiknya atau chögä. Dia menggantungnya di cabang sebuah pohon dan bersujud tiga kali ke arah Sang Buddha berdiam. Dia berdoa bahwa setelah menyadari dalam kehidupan sekarang ini dia tidak dapat meraih apapun, maka sekarang dia akan mati dan berdoa bahwa dalam kehidupannya yang akan datang dia bisa segera mengambil pentahbisan menjadi anggota Sangha yang sepenuhnya baru dan mempraktikkan Dharma.

Sesungguhnya, setelah memberinya pentahbisan, Sang Buddha telah meminta murid utamanya, Maudgalyayana, menjaga pria tua ini. Karena Maudgalyayana memiliki kewaskitaan, dia menggunakannya untuk mengetahui bahwa Srija sedang berada di tepi sungai, hendak terjun. Dia dengan segera pergi ke tempat pria tua tersebut berdiri dan mengatakan, ‘Jangan! Apa yang kamu lakukan?’ Biksu tua tersebut kemudian menjelaskan dan Maudgalyayana mengatakan, ‘Anda tidak seharusnya melakukannya. Saya akan menolong Anda. Berpeganglah pada jubah monastik saya.’ Dengan menggunakan kekuatan gaibnya, Beliau membawanya ke sebuah pulau. Mereka mendarat di atas tulang rangka seekor binatang besar dan duduk di sana. Maudgalyayana bertanya padanya, ‘Apakah Anda tahu tulang rangka siapakah ini?’ Tentu saja, biksu tua tersebut menjawab, ‘Tidak, saya tidak tahu.’ Kemudian Maudgalyayana menjelaskan padanya bahwa sesungguhnya itu adalah tulang rangka dirinya dalam kehidupan yang lampau. Dia telah terlahir di alam rendah sebagai monster laut raksasa. Beliau menjelaskan proses keseluruhan yang menyebabkannya berada di sana – bagaimana melalui perbuatan yang tidak bajik, dia telah dilempar untuk terlahir dengan bentuk yang lebih rendah sebagai seekor binatang; bagaimana dengan karma lainnya, dia telah terlahir sebagai manusia dalam kehidupan sekarang ini. Beliau menjelaskan keseluruhan sistem karma dan ke-saling-tergantungan. Alhasil, sang biksu tua Srija mampu memahami hakikat sejati dari kenyataan dan sanggup merealisasikan tingkatan arya yang disebut pemasuk arus. Hasilnya, dia juga memperoleh kekuatan gaib dan sanggup kembali ke tempat di mana Sang Buddha berdiam, dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Ketika anggota Sangha yang lain melihat ini, mereka mengatakan, ‘Oh, lelaki tua ini, lihat apa yang telah dilakukannya.Sungguh menakjubkan bahwa dia sanggup meraih tingkatan ini.

Setelah melihat kejadian ini, kumpulan pengikut Sang Buddha memohon penjelasan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak sanggup merasakan kumpulan kebajikan sedikit pun pada lelaki tua ini. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak mengizinkannya mengambil pentahbisan. Mereka bertanya kepada Sang Buddha bagaimana caranya dia bisa meraih kebajikan yang cukup dalam kehidupan sekarang ini untuk merealisasikan tingkatan arya yang disebut pemasuk arus ini. Sang Buddha menjelaskan bahwa dahulu kala di masa lampau, berkalpa-kalpa sebelumnya, dalam masa Buddha sebelumnya, makhluk ini, yang sekarang perumah-tangga Srija, telah terlahir sebagai seekor lalat. Ketika itu ada sebuah stupa. Hujan turun sangat derasnya dan stupa tersebut dikelilingi oleh air. Lalat ini tanpa sengaja mendarat di sebuah gundukan kotoran kuda yang kering. Melalui aliran air tersebut, lalat ini kemudian dibawa berkeliling (pradaksina) stupa tersebut di atas gundukan kotoran kuda kering tersebut. Sebagai hasilnya, kebajikan yang telah dia kumpulkan dari kejadian ini telah matang pada kehidupan sekarang ini dan membuatnya bisa mengambil pentahbisan dan mencapai tingkatan seorang arya. Ternyata kumpulan kebajikan tersebut sangat kecil sehingga tidak terasa oleh para pengikut Sang Buddha. Hanya persepsi dan kebijaksanaan Buddha yang unggul-lah yang membantu Beliau bisa merasakan elemen kebajikan ini di dalam diri lelaki tua tersebut. Ketika lelaki tua ini terlahir sebagai seekor lalat, dia tidak melakukan pradaksina keliling stupa dengan sengaja. Hal tersebut dilakukan tanpa sadar, namun tetap saja cukup baginya untuk bisa membangkitkan jumlah kebajikan tertentu yang mengantarkannya kepada hasil yang seperti kita lihat bersama. Ini berarti bahwa ketika Anda, dengan kehendak dan kesengajaan, membuat persembahan, memuji, dan memberi penghormatan pada para Buddha, maka kebajikan yang Anda bangkitkan tak terkatakan.

3. Buddha Bertindak dengan Welas Asih dan Keadilan yang Besar Bagi Siapa Saja

Kita telah melihat dua alasan mengapa Buddha adalah objek berlindung yang layak. Pertama, Beliau telah mengatasi segala ketakutan pribadinya dan yang kedua, Beliau sepenuhnya terampil dalam menolong orang lain membebaskan diri mereka sendiri dari penderitaannya. Sekarang, jika seseorang memiliki dua kualitas ini, tapi perasaan welas asihnya tidak adil; jika dia memiliki perasaan welas asih hanya kepada mereka yang dia senangi dan tidak kepada mereka yang tidak disukai, maka meskipun kedua kualitas pertama tadi dimiliki, dia tidak akan layak dipercaya. Namun, ini bukan kasus yang terjadi bagi seorang Buddha. Welas asih Buddha bersifat universal dan adil terhadap semuanya. Beliau memiliki seorang putra bernama Rahula dan seorang sepupu bernama Devadatta, yang selalu mencoba menjatuhkan Buddha, menghalang-halanginya, atau menyakiti Buddha dengan berbagai cara. Namun, terhadap keduanya, Sang Buddha memiliki perasaan welas asih yang persis sama. Dalam kitab Pembebasan di Tangan Kita, dijelaskan bahwa Sang Buddha tidak memperlakukan putranya, Rahula, lebih baik daripada sepupunya, Devadatta. Ketika Devadatta memakan minyak pengobatan tertentu dan jatuh sakit dalam rangka ingin membuka kedok Sang Buddha, Sang Buddha malah mampu menyembuhkannya hanya dengan memanjatkan sebuah sumpah kebenaran. Dengan kata lain, berjanji bahwa cintanya pada Rahula dan Devadatta adalah setara. Ceritanya tidak terlalu jelas. Kisahnya menceritakan tentang Devadatta yang memakan apa yang diterjemahkan sebagai ‘minyak pengobatan,’ tapi itu sebenarnya adalah mentega obat. Itu adalah persiapan khusus yang dibuat dokter sebagai sebuah jenis vitamin untuk meningkatkan energi dan tenaga seseorang. Dokter-dokter Tibet juga meramu obat ini, yang terbuat dari susu konsentrat, mentega, madu, dan bahan-bahan obat lainnya yang dimasak bersama-sama, dikeringkan, dan dikemas dalam bentuk kapsul. Ramuan ini sudah ada sejak zaman Sang Buddha, dan salah satu pengikutnya, karena keyakinannya yang besar, telah mempersembahkan ini kepada Sang Buddha. Sang Buddha menerima persembahan tersebut dan memakannya. Sesungguhnya, Beliau makan lebih dari dosis yang biasanya. Seperti yang kita katakan, sepupunya selalu mencoba mengerjai Buddha dan membuka kedoknya sebagai manusia biasa. Dia mengatakan, ‘Makan obat ini berlebihan tidak ada apa-apanya. Saya juga sanggup melakukan hal yang sama,’ dan dimakannya dalam jumlah banyak. Akibatnya, dia jatuh sakit. Dalam kasus ini, apa yang Sang Buddha lakukan adalah membuat sebuah sumpah dengan mengatakan, ‘Jika cintaku untuk putraku adalah persis sama dengan cintaku untuk Devadatta, maka semoga Devadatta sembuh.’ Karena cintanya buat keduanya setara, maka itulah yang persis terjadi dan Devadatta sembuh dari penyakitnya. Demikianlah kita dapat memahami bahwa itulah alasan lainnya mengapa Sang Buddha layak menjadi objek perlindungan, karena welas asihnya yang universal dan setara bagi semuanya.

4. Buddha Bertindak Demi Kepentingan Setiap Orang, Baik Mereka yang Menguntungakannya Maupun Tidak

Alasan keempat mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan adalah, tanpa memperhatikan apakah makhluk tersebut menguntungkan atau menyakitinya, Buddha tetap akan bertindak demi kepentingan semua makhluk. Kita tahu ini adalah sesuatu yang cukup sulit bagi kita. Kita lebih mudah menolong mereka yang telah membantu kita. Kita memiliki kecenderungan meninggalkan mereka yang tidak melakukan apapun bagi kita atau yang menyakiti kita. Bagi seorang Buddha, tanpa memperhatikan apakah makhluk hidup tersebut melakukan sesuatu yang menyenangkan maupun menyakitinya, Beliau akan menolong mereka semua. Jika tidak demikian, maka sekali lagi, berarti Buddha tidak dapat benar-benar diandalkan dan kita tidak dapat mengganggap Beliau sebagai objek perlindungan yang layak. Karena empat alasan inilah, maka Buddha adalah objek perlindungan paling unggul.

Transkrip Pembabaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche di Kadam Tashi Choe Ling, Kuala Lumpur, Malaysia pada Desember 2003 dan di Kadam Choeling, Bali, Indonesia, pada 29-30 Februari 2005

Transkrip selengkapnya terdapat dalam buku “Berlindung Jld. 1” dan “Sumati Mañjuśrī Maitreya Samudra Śāstra Samgraha”

Berlindung, Pintu Gerbang Memasuki Ajaran