Menjadi Buddhis

Kelahiran Manusia yang Berharga

“Kita harus melihat bahwa segala hal yang kita lakukan dalam masa kehidupan ini, ketika menjadi terganggu (tergoda oleh hal-hal duniawi), mencari hiburan,  membiarkan diri kita menjadi tak terkendali, dan sebagainya adalah sebuah penghamburan waktu. Sedangkan kesempatan untuk terlahir sebagai manusia adalah sangat langka dan masa kehidupan ini sangatlah singkat.”

Salah satu bait yang pernah disebutkan oleh Je Tsongkhapa adalah:

“Kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang unggul. Nilai unggulnya jauh melebihi permata pengabul harapan atau harta benda apapun, seperti intan dan sebagainya. Nilai unggul terlahir sebagai manusia ini adalah ratusan bahkan ribuan kali lebih berharga.”

Meskipun memiliki kelahiran yang unggul sebagai manusia, kita terkadang tidak menyadarinya dan cenderung menganggap bahwa hal tersebut adalah biasa-biasa saja. Namun sebenarnya nilainya sangat luar biasa dibandingkan dengan semua hal duniawi yang kita miliki. Mengapa demikian? Karena harta benda duniawi yang kita miliki hanya bisa memberikan manfaat kepada kita untuk jangka waktu yang singkat. Bersama harta benda tersebut kita menjalani kehidupan ini, melindungi teman-teman dan kerabat kita, mencelakai semua musuh, dan kemudian mengumpulkan harta yang lebih banyak lagi, tetapi suatu hari ketika kita harus meninggalkan tubuh ini, kita tidak bisa membawa satupun, bahkan bagian yang paling kecil dari harta benda tersebut. Kita harus meninggalkan semuanya.

Di sisi lain, tubuh manusia ini merupakan landasan untuk memperoleh semua tujuan sementara maupun terunggul. Dengan tubuh manusia, kita bisa memperoleh tujuan sementara berupa kelahiran yang lebih tinggi, sebagai manusia lagi atau sebagai dewa dalam samsāra.

Kelahiran kita saat ini juga memberikan kemungkinan bagi kita untuk mendapatkan suatu keadaan tertentu yang kita harapkan pada kelahiran kita sebagai manusia di masa yang akan datang, contohnya: menjadi orang Indonesia, Malaysia, Perancis, atau Belanda. Kita memiliki semua kemungkinan tersebut terbuka pada diri kita karena keadaan yang kita nikmati dalam kehidupan sekarang ini. Mengapa kita yakin bahwa kita dapat memperoleh kelahiran sebagai seorang manusia lagi pada kehidupan yang akan datang? Hal ini karena kita memiliki kemungkinan untuk menciptakan sebab-sebabnya. Dari beberapa sebab yang menghasilkan suatu kelahiran yang tinggi, sebab utamanya adalah ketaatan terhadap disiplin moral yang murni (S: Śīla). Selain menjamin diri kita mendapatkan suatu bentuk kelahiran manusia yang biasa dengan dasar dari bentuk kehidupan yang kita miliki sekarang ini, kita juga dapat menjamin diri kita untuk memperoleh suatu keadaan manusia yang unggul. Maksudnya adalah sebagai manusia yang memiliki kualitas spesial seperti kekayaan tubuh yang kuat, kemampuan untuk menyelesaikan tugas, pikiran yang stabil, dan kecerdasan yang cukup untuk melanjutkan studi kita.

Semua hal yang diperoleh ini muncul dari sebab-sebabnya. Kita harus menciptakan sebab untuk menghasilkan kondisi yang demikian. Memiliki kekayaan adalah akibat dari mempraktikkan kemurahan hati [atau suka memberi] (S: Dana). Kita dapat berlatih dalam cara ini, mengembangkan kemurahan hati untuk menjamin kita memiliki suatu kekayaan dalam kehidupan yang akan datang. Karakteristik kedua, yaitu memiliki tubuh yang kuat dan menarik, merupakan hasil dari mempraktikkan kesabaran (S: Ksanti). Ketika kita melatih kesabaran, kita tidak saja akan memiliki sebuah tubuh yang sehat tetapi juga tubuh yang menarik dalam kehidupan kita yang akan datang. Hal ini juga akan menyebabkan kita memiliki kumpulan teman yang baik dan sebagainya. Sementara itu kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas sampai lengkap atau rampung adalah akibat dari berlatih dalam upaya yang bersemangat (S: Virya) dalam kehidupan sebelumnya. Bila kita melakukan suatu upaya dan mengembangkan upaya yang bersemangat dalam diri kita pada kehidupan sekarang, maka dengan demikian kita dapat menjamin mempunyai ketekunan dan kemampuan untuk menyelesaikan suatu tugas yang akan kita kerjakan di kehidupan kita yang akan datang. Berikutnya pikiran yang stabil adalah hasil dari latihan konsentrasi (S: Samādhi), dan kecerdasan adalah hasil dari latihan dalam belajar, perenungan, dan meditasi (S: Prajñā).

Selain tujuan sementara, tujuan terunggul yang dapat dicapai adalah berupa pembebasan sempurna dari samsāra dan juga pencerahan lengkap sempurna (Kebuddhaan) demi menolong semua makhluk untuk keluar dari penderitaan.

Dengan merenungkan betapa berharganya kelahiran sebagai manusia yang unggul yang telah kita peroleh pada kehidupan sekarang ini, dimana kita mampu mengumpulkan tak terhitung banyaknya sebab untuk pencapaian kebebasan maupun pencerahan, tidak seharusnya kita menyia-nyiakan bentuk kehidupan kita sekarang ini. Je Tsongkhapa berkata, “Mengerti nilai besarnya, kita akan berhenti menyia-nyiakannya.” Akan tetapi cara berpikir kita sepenuhnya berbeda dengan apa yang telah dijelaskan oleh Yang Mulia Je Tsongkhapa. Kita lebih sedih karena kehilangan dompet kita jika ada uang di dalamnya, dibandingkan saat kita menyia-nyiakan waktu kita. Suatu kenyataan bahwa ketika seseorang kehilangan dompetnya, semua orang menaruh perhatian dan berpikir “Di bagian bumi sebelah manakah dompetnya berada?” Mereka akan mencari dompet tersebut di semua tempat tetapi tidak berpikir bahwa mereka telah menghamburkan waktu. Kenyataannya, kita justru selalu mencari cara untuk menghamburkan waktu, kita selalu menghabiskan waktu kita dengan menonton pertunjukan, menonton televisi, mendengarkan musik, dan berbagai bentuk hiburan lainnya. Hal inilah yang menunjukkan betapa jauh berbedanya cara berpikir kita dibandingkan dengan seseorang yang telah benar-benar memahami potensi besar dari bentuk kehidupan sebagai manusia.

Jika kita renungkan lagi, sebenarnya bentuk kehidupan yang kita miliki sekarang ini tidak ada bedanya dengan yang dimiliki oleh banyak praktisi agung di masa lampau, mereka yang mampu mencapai realisasi atau pencapaian spiritual tertinggi dalam kehidupan mereka. Sebagai salah satu contoh adalah Jetsun Milarepa yang mencapai pencerahan dalam satu waktu kehidupan. Bentuk kehidupan beliau tidak berbeda dengan yang kita miliki saat ini. Perbedaan antara beliau dan kita adalah hanya karena beliau menggunakan seluruh potensinya. Beliau melakukan upaya yang giat untuk menggunakan apa yang telah beliau miliki dan menunjukkan ketekunan dalam praktiknya.

Mungkin ketika merenungkan mengenai hal ini, sebagian besar orang akan berpikir “Memang benar jika bentuk kehidupan saya sekarang memberi saya potensi besar, akan tetapi jika saya gagal menggunakannya saat ini, saya akan mendapatkannya lagi dalam kehidupan mendatang dan kelak akan memanfaatkan bentuk kehidupan sebagai manusia ini dengan baik pada kehidupan mendatang.” Untuk menyangkal pandangan yang keliru ini, Je Tsongkhapa juga menjelaskan lebih lanjut lagi bahwa kehidupan yang unggul ini seolah-olah hanya bisa kita peroleh kali ini saja. Mengapa demikian?

Mendapatkan kelahiran unggul sebagai manusia memerlukan sebab dan kebajikan yang tak terhingga banyaknya. Kita memerlukan praktik disiplin moral yang murni, praktik dari enam kesempurnaan atau enam pāramitā. Masing-masing dapat bertanya pada dirinya sendiri apakah kita telah menghasilkan berbagai sebab ini. Untuk menentukan apakah kita sedang mempraktikkan disiplin moral yang murni, kita tidak perlu meminta pendapat orang lain. Kita adalah orang yang akan paling jelas dalam memeriksa tingkah laku kita sendiri. Untuk melakukan hal ini kita dapat mengamati tingkah laku kita dalam satu hari, coba periksa pikiran kita sejak waktu bangun di pagi hari sampai sekarang. Kita akan melihat apakah pikiran kita telah disiplin, dipengaruhi oleh klesha, atau apakah dalam suatu keadaan yang netral? Kita harus membandingkan berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam keadaan pikiran bajik dibandingkan dengan ketika batin kita dalam keadaan tidak bajik atau netral.

Kalau kita jujur, kita akan harus mengakui bahwa sulit untuk menemukan perbuatan atau pikiran bajik kita yang lengkap dimulai dari tahap motivasi, perbuatan, sampai penyelesaian. Dengan dasar inilah kita seharusnya mengerti bahwa akan sulit sekali bagi kita untuk memperoleh suatu bentuk kelahiran yang lebih tinggi seperti yang kita dapatkan saat ini.

Bila kita gagal mendapatkan kelahiran seperti yang kita miliki saat ini dan sebaliknya jatuh pada suatu kelahiran di alam rendah, akan menjadi sangat sulit bagi kita untuk menghasilkan suatu kebajikan. Hal ini dikarenakan praktis seluruh waktu kita akan dilewatkan di bawah pengaruh tiga racun mental yaitu kemelekatan (S: Lobha), kebodohan (S: Moha), dan kebencian (S: Dosa). Sebagai contoh kita dapat melihat kehidupan seekor binatang misalkan anjing. Sulit untuk membayangkan bagaimana seekor anjing akan dapat belajar sesuatu mengenai Dharma atau memiliki suatu jenis kecerdasan yang dapat membedakan antara hal yang baik dan hal yang buruk. Karena alasan inilah, binatang dikatakan tidak dapat membangkitkan nilai kebajikan (karma baik) yang baru. Mereka harus terus terlahir dari kelahiran rendah ke kelahiran rendah atau bahkan kelahiran lebih rendah berikutnya. Inilah alasan mengapa sangat sulit untuk keluar dari alam rendah sekali kita terlahir di sana. Ketika kita dapat memahami akibat dari kelahiran di alam-alam rendah tersebut, hal ini akan cukup memberikan kita sebuah rasa ngeri.

Lebih lanjut lagi untuk mempermudah pemahaman akan hal ini, dapat digunakan analogi berikut. Jika kita melihat ke sekeliling, kita bisa dengan mudah melihat bahwa jumlah manusia adalah lebih kecil daripada jumlah binatang di dunia, sementara jumlah binatang lebih kecil daripada jumlah hantu kelaparan, dan makhluk neraka bahkan berjumlah lebih banyak lagi dibandingkan semuanya.

Sang Buddha memberikan sebuah instruksi di dalam Sūtra Vinaya. Suatu waktu ketika Beliau bersama dengan murid-muridnya, Beliau menyentuh tanah dengan ujung jarinya dan mengumpulkan sedikit debu di ujung jarinya tersebut. Beliau kemudian menunjukkannya kepada para pengikutnya dan berkata, “Sekarang, oh Para Bhikkhu, yang mana yang lebih banyak jumlahnya, partikel debu di ujung jariku atau partikel debu di dunia?” Para bhikkhu menjawab bahwa lebih banyak partikel debu ada di dunia dibandingkan dengan partikel debu di ujung jari Sang Buddha. Beliau kemudian melanjutkan:

“Jumlah makhluk yang terlahir kembali ke alam yang lebih tinggi dari alam rendah dan alam yang lebih tinggi, adalah sebanding dengan jumlah partikel debu di ujung jariku. Sedangkan jumlah makhluk yang terlahir kembali di alam rendah dari alam rendah dan alam yang lebih tinggi, adalah sebanding dengan jumlah partikel debu yang terdapat di permukaan bumi.”

Untuk menjelaskan mengapa bisa terjadi kenyataan demikian, adalah bahwa kita begitu sulit untuk melakukan suatu bentuk kebajikan yang lengkap dan begitu mudah untuk membangkitkan pikiran tidak bajik. Kita mungkin saja melakukan suatu perbuatan baik tetapi perhatian kita teralih sebelum kita selesai melakukannya. Atau ketika kita memulai suatu perbuatan baik, kita lupa untuk pertama-tama membangkitkan suatu motivasi yang baik. Atau bila kita memulai dengan baik, di tengahtengah pikiran kita terganggu. Atau kita melakukan awal yang benar tetapi lupa pada tahap terakhir yaitu kita lupa mendedikasikan kebajikan kita. Dalam setiap kasus, yang terjadi adalah kita gagal untuk melakukan suatu kebajikan dengan tepat dan lengkap. Dari analogi ini, dapat dipahami betapa sulitnya memperoleh kelahiran unggul sebagai manusia.

Selain sulit diperoleh, kehidupan yang kita miliki sekarang juga sangatlah singkat dan rapuh. Kehidupan kita diibaratkan seperti sekilas kilat di angkasa. Buktinya, tidak diperlukan upaya yang besar untuk mengakhiri napas di ujung hidung kita. Kematian bukanlah hal yang jauh dari kita. Selain itu, tidak ada kepastian kapan seseorang akan mati karena kondisi yang mengakhiri hidup lebih banyak dibandingkan dengan kondisi yang mendukung dan mempertahankan kehidupan.

Seperti yang dikatakan oleh Raja Dharma yang agung Je Tsongkhapa, yaitu sekali kita telah mengerti betapa besar nilai dari kelahiran kita sebagai manusia yang bebas dan terberkahi, merupakan suatu pemborosan yang luar biasa jika kita menggunakannya untuk aktivitas-aktivitas yang tidak bermanfaat. Jika kita memahami betapa sangat sulitnya untuk mendapat bentuk kelahiran seperti ini, kita akan menyimpulkan bahwa kita harus benar-benar menghindari untuk menyia-nyiakannya. Kita akan membangkitkan suatu tekad yang kuat untuk menggunakan berapapun waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk memperoleh sesuatu yang bermakna.

Apa yang dimaksud dengan membuat kehidupan menjadi bermakna? Membuat kehidupan menjadi bermakna maksudnya adalah dengan meningkatkan cara berpikir kita, mengubah perilaku kita, dan mengembangkan semua kualitas bajik sesuai dengan yang diajarkan dan dipuji oleh Para Buddha. Dengan mengembangkan kualitas-kualitas bajik tersebut kita tidak hanya berguna bagi diri kita sendiri tetapi juga berguna bagi tak terhingga makhluk hidup.

Jika kita tidak bisa memperoleh realisasi dari Tahapan Sang Jalan maka kita tidak akan memiliki apapun untuk dibawa ke kehidupan berikutnya. Dengan mempelajari Tahapan Sang Jalan, kita bisa memiliki kemampuan yang lebih besar untuk secara mudah mempelajarinya lagi pada kehidupan mendatang, meskipun hal ini saja sangatlah tidak cukup. Kita memerlukan pemahaman yang lebih nyata dan kokoh yang disebut dengan realisasi. Hal inilah yang akan kita bawa ke kehidupan mendatang. Tanpanya semua pengetahuan yang telah kita peroleh akan dilupakan dan ditinggalkan begitu saja ketika meninggalkan kehidupan ini.

Untuk memperoleh pencapaian spiritual, kita perlu memeditasikan apa yang menjadi sebab bagi semua pencapaian ini. Untuk bisa memeditasikannya, hal pertama yang harus bisa kita lakukan adalah merenung. Kemudian untuk bisa merenung kita harus memiliki materi yang diperlukan untuk perenungan dan sumber untuk memperoleh materi ini adalah dari proses belajar. Objek untuk pembelajaran, perenungan, dan meditasi adalah kata-kata Buddha. Kitab yang berisi kata-kata Buddha sangat banyak jumlahnya. Karya yang menyarikan semua esensi pemikiran Guru Buddha adalah Bodhipathapradīpa karya Guru Atiśa. Di samping itu, juga terdapat ulasan sempurna atas karya Bodhipathapradīpa ini yaitu Lamrim Chenmo yang disusun oleh Je Tsongkhapa.

 

Transkrip Pembabaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche di Bandung, Indonesia pada 2001
Transkrip selengkapnya terdapat dalam buku “Lamrim Buddhisme yang Lengkap dan Sistematis”


Kelahiran Manusia yang Berharga (Lanjutan)

Memahami 8 Kebebasan & 10 Keberuntungan, Nilai Besar dan Betapa Sulitnya Didapatkan