Menjadi Buddhis

Kematian & Ketidakkekalan


Mengutip nasihat dari Gungthang Rinpoche, “Engkau telah memperoleh sebuah kehidupan dengan kebebasan dan kebeuntungan, serta bertemu ajaran Sang Penakluk. Engkau juga telah diajar oleh guru-guru berkualitas dan sahabat-sahabat Dharma yang baik. Menimbang kombinasi keadaan yang menguntungkan seperti ini, akan sulit untuk memperolehnya kembali di masa depan, selain fakta bahwa ia membutuhkan potensi besar. Jadi, halaulah sikap menunda-nunda dan gunakan kehidupan manusia kita dengan baik!”

Kita telah memperoleh kehidupan manusia yang berharga dengan kebebasan dan keberuntungan. Kita telah bertemu ajaran Sang Buddha dan telah mengambil perlindungan dari guru spiritual yang berkualitas, yang juga mengajarkan kita Dharma. Kemudian, kita memiliki sahabat-sahabat Dharma. Sangatlah jarang semua keadaan yang amat menguntungkan ini datang bersama-sama, dan sangatlah sulit untuk mengalaminya lagi di masa depan. Untuk alasan ini, berhubung kita masih memiliki semua keadaan ini, maka kita harus menggunakan mereka dengan sebaik-baiknya, bukannya menyerah pada sikap menunda-nunda dan kemalasan.

Sebagai manusia, kita memiliki batin manusia, memiliki potensi luar biasa yang jauh lebih unggul dari bentuk kehidupan lainnya. Akan sangat memalukan jika kita hanya menggunakannya untuk tujuan mencari nafkah dan seterusnya, sedangkan tujuan sejati kita adalah menjadi bahagia dan bebas dari penderitaan. Jadi, akan jauh lebih bermakna dan bermanfaat untuk mengarahkan potensi kita pada pencapaian dua tujuan tersebut. Kebahagiaan yang kita cita-citakan takkan muncul dengan sendirinya, apalagi dengan sekadar berdoa. Satu-satunya cara untuk mewujudkan kebahagiaan sejati adalah dengan mengumpulkan sebab-sebabnya di dalam diri kita.

Sebagian besar dari kita sudah tercukupi dalam hal sandang, pangan, dan papan. Apa yang perlu kita perhatikan sekarang adalah kondisi batin kita, dalam rangka membawa perubahan dalam diri kita sendiri dan menciptakan sebab-sebab kebahagiaan dalam diri kita. Ini berarti mengubah cara kita melihat sesuatu dan meningkatkan pemahaman kita tentang berbagai hal. Tidak ada jaminan bahwa peningkatan kondisi material akan meningkatkan kebahagiaan kita secara proporsional. Banyak orang kaya yang tidak bahagia. Ini semata menunjukkan bahwa pandangan dan sikap mereka tidak benar. Di sisi lain, kadang-kadang kita melihat beberapa orang yang hidup pas-pasan tetapi sangat bahagia. Ini terjadi karena pemahaman mereka yang benar dan sikap mereka yang positif. Oleh karena itu, di atas segalanya, kita perlu memberi penekanan khusus pada batin kita, yaitu pemahaman dan cara pandang kita dalam memandang segala sesuatu.

Jika sampai sekarang kita masih belum mampu memiliki bentuk kebahagiaan sejati yang stabil dan tak berubah, hal ini terjadi karena ada begitu banyak pemahaman dan sikap yang salah dalam diri kita. Oleh karena itu, kita perlu menyesuaikan pemahaman dan sikap kita secara tepat. Banyak pikiran dan reaksi kita yang menghalangi kita untuk mengalami kebahagiaan sejati. Selama kita memelihara mereka, masalah kita akan terus ada dan mengganggu kita. Salah satunya adalah ketidakpuasan yang dipicu oleh aneka ragam keinginan. Tentu saja ada banyak jenis keinginan, dan beberapa di antaranya sangat konstruktif, tetapi keinginan yang dimaksud di sini adalah sikap yang selalu menginginkan lebih dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki. Sebagai contoh, jika kita memiliki $100, kita akan menginginkan $1.000, dan jika kita memiliki $1.000, kita ingin memiliki $10.000, dan seterusnya. Sikap yang demikian tidak pernah berakhir. Ini adalah salah satu hal yang perlu kita ubah di dalam diri kita. Kita perlu menghilangkan ketidakpuasan ini, yang muncul dari keinginan dan kemelekatan yang kita miliki dalam diri kita. Jika kita bisa mengganti sikap ini dengan kepuasan, yaitu merasa puas dan cukup dengan apa yang kita miliki, kita takkan lagi terus-menerus dihantui oleh kegelisahan. Sebagai hasilnya, kita akan merasa jauh lebih damai dalam hidup ini.

Masalah kita yang lain adalah kemalasan. Ketika kita malas, kita cenderung hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Pada saat itu, kita merasa baik-baik saja, tetapi masalahnya adalah: sikap ini mencegah kita mendapatkan sesuatu yang kita dambakan, misalnya kemajuan spiritual kita. Akhirnya, hal ini akan menciptakan masalah bagi kita, karena kemalasan menghalangi kita untuk terlibat dalam praktik spiritual, sumber sejati dari kebahagiaan masa depan kita.

Ini hanyalah beberapa pandangan dan sikap yang perlu kita singkirkan secara berkala, berhubung mereka menghalangi kondisi baik kita dan menciptakan kesulitan bagi kita. Di sisi lain, ada berbagai sikap yang memiliki efek menguntungkan bagi kita, dan kita perlu mendorong mereka ke dalam diri kita. Misalnya, sikap peduli dan cinta kasih pada orang lain, menghormati orang lain, sikap sabar, dan lain-lain. Ada sejumlah besar kualitas yang kita butuhkan untuk memperkuat diri kita dalam rangka mencapai kebahagiaan pribadi dan memberikan sukacita kepada orang-orang di sekitar kita.

Meskipun sulit untuk mengubah dunia, kita pasti dapat mengubah diri sendiri. Ketika kita menemukan diri kita dalam situasi yang sangat sulit, kita tidak bisa selalu benar-benar mengubah lingkungan kita, tetapi kita pasti bisa mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Kita adalah satu-satunya orang yang dapat membawa perubahan ini ke dalam diri sendiri. Orang lain dapat membantu kita dengan nasihat dan panduan, tetapi pada dasarnya transformasi batin kita hanya dapat dicapai oleh diri kita sendiri. Kalaupun misalnya setiap makhluk di dunia ini berusaha untuk membantu kita berkembang, jika dari pihak kita sendiri tidak ada usaha yang berarti, maka perubahan tidak mungkin terjadi. Pada dasarnya, terserah kepada kita sendiri untuk melakukannya atau tidak. Bahkan jika banyak orang yang setiap harinya mendatangi kita dengan kata-kata baik, saran yang konstruktif, dan bantuan material, kita takkan pernah merasa bahagia kalau tak ada usaha pribadi dari pihak kita.

Hidup ini singkat, dan rentang hidup setiap orang berbeda-beda. Beberapa orang hidup lebih lama daripada yang lain, tetapi aturan umumnya adalah kehidupan kita tidak berlangsung terus-menerus. Waktu berjalan sangat cepat, sehingga lebih penting bagi kita untuk menggunakan berapa pun waktu yang masih tersisa dalam hidup kita untuk mengejar kebahagiaan sejati. Untuk menggunakan hidup kita dengan baik dan mengejar tujuan yang berharga, kita memerlukan metode yang bisa diandalkan, yang telah dicoba dan terbukti efektif. Adalah penting bahwa metode yang kita gunakan telah berhasil diterapkan oleh orang lain dan terbukti manjur. Ini merupakan jaminan untuk menggunakan metode yang sama.

Seperti yang kita ketahui, Sang Buddha tidaklah selalu seorang Buddha. Awalnya beliau adalah seorang makhluk biasa seperti kita semua. Pada saat menghadapi masalah, beliau masih mencari metode terbaik untuk mengubah pemikirannya. Setelah menemukannya, beliau kemudian menerapkannya, mengembangkan dirinya, dan akhirnya menjadi seorang Buddha. Pada gilirannya, beliau mengajarkan metodenya demi menolong semua makhluk. Dan ketika mengajar, beliau tidak melakukannya dengan cara yang serampangan. Beliau mengajarkan apa yang telah dipelajari melalui pengalaman pribadinya. Sang Buddha menjelaskan apa yang telah dilakukannya dan metode apa yang telah ia praktikkan. Beliau mengajar dengan teknik tertentu yang memungkinkan orang lain untuk berkembang di jalan spiritual. Beliau secara bertahap telah berhasil mengembangkan dirinya secara sempurna, yakni dengan menyingkirkan kesalahannya dan menyempurnakan kualitas-kualitas baiknya. Beliau mengajarkan aneka metode yang tak terhitung banyaknya sesuai dengan kecenderungan dan kebutuhan pengikutnya yang berbeda-beda. Dan saat ini, kita memiliki keberuntungan yang luar biasa untuk memiliki akses ke sebuah instruksi yang dapat dibandingkan dengan makanan siap saji, yang hanya butuh dipanaskan untuk kemudian dimakan. Ajaran tersebut adalah Lamrim.

Instruksi yang disebut Lamrim ini telah rampung dan siap untuk segera diterapkan. Selain itu, instruksi ini berisi metode-metode yang disesuaikan dengan orang-orang dari berbagai tingkat perkembangan spiritual. Bagi mereka yang berada di tahap awal jalan spiritual, terdapat instruksi ihwal apa yang harus mereka lakukan untuk memulainya. Bagi mereka yang sedikit lebih maju, terdapat instruksi tentang cara berpraktik. Bagi mereka yang sudah sangat maju perkembangan spiritualnya dan telah mencapai tingkat pengembangan batin yang unggul, terdapat instruksi lebih lanjut. Dan dari sekian banyak topik penting yang tercantum dalam Lamrim, salah satunya adalah kematian dan ketidakkekalan.

Dalam garis besar Lamrim yang disebut lnstruksi Guru yang Berharga, topik ini ditemukan pada awal jalan yang dijalankan bersama makhluk motivasi awal, yakni di bagian ‘mengembangkan kepedulian terhadap kehidupan mendatang.’ Untuk memulai topik ini, kita harus tahu bahwa ada dua tingkat ketidakkekalan: halus dan kasar. Guru-guru di masa lampau menjelaskan perubahan konstan yang terjadi pada semua fenomena sebagai bentuk ketidakkekalan halus, fakta bahwa mereka tidak pernah tetap dari satu momen ke momen lain. Ungkapan ‘ketidakkekalan kasar’ berlaku untuk transformasi yang lebih jelas, seperti ketika sebuah pot pecah atau ketika kehidupan seseorang berakhir. Lalu, apa yang dimaksud ‘ketidakkekalan halus’? Mengapa hal-ihwal yang tidak kekal dikatakan berubah terus-menerus? Mengingat bahwa mereka muncul dari sebab dan kondisi, mereka secara otomatis tidak stabil; mereka mengalami transformasi halus dari waktu ke waktu. Apa pun yang dihasilkan oleh sebab dan kondisi tidak bisa tetap bertahan. Momen pertama akan menghasilkan momen kedua, yang pada gilirannya akan menghasilkan momen ketiga dan seterusnya, hingga mereka kehilangan eksistensinya. Kita membayangkan diri kita memiliki eksistensi tertentu, tetapi pada kenyataannya, ini bukanlah hakikat kita. Misalnya, kita bukan orang yang sama persis seperti ketika kita pertama kali masuk ke ruangan untuk mendengarkan ajaran. Di sela-sela waktu antara masuknya kita ke ruangan dan diri kita sekarang, transformasi kecil yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi. Buddha telah mengajarkan ini, dan ilmuwan modern sekarang juga menegaskan hal yang sama.

Lalu, mengapa kita memiliki kesan bahwa kita masihlah sosok yang sama seperti diri kita beberapa menit yang lalu, meskipun faktanya kita berubah dari waktu ke waktu? Hal ini karena perubahan yang kita alami terjadi dalam sebuah rangkaian yang tak terputus. Meskipun kita tidak identik dari satu momen ke momen yang lain, ada kesinambungan tertentu dari diri kita yang memberi kita gagasan bahwa diri kita stabil. Istilah Tibet untuk menggambarkan gagasan ini adalah gyun, yang berarti “kesinambungan,” tapi kita harus berhati-hati dalam menafsirkannya. Kata latin, continuum, juga bisa digunakan, namun hal itu bukan berarti kita adalah orang yang sama dari menit ke menit. Konsep yang dimaksud di sini adalah sebuah rangkaian dari momen ke momen yang terus-menerus berkelanjutan.

Satu momen adalah kelanjutan dari momen sebelumnya; sebagai contoh, momen A menghasilkan momen B, maka B menjadi kelanjutan dari A. Demikianlah hal tersebut terjadi terus-menerus, namun tidak ada momen yang sama dengan momen sebelumnya. Hal ini seperti sebuah sungai. Ketika kita mengamati sungai, kita melihat air mengalir. Kita pikir sungai itu memiliki eksistensinya sendiri, padahal faktanya tidak ada momen pada sungai tersebut yang sama dengan momen sebelumnya. Air sungai hadir sebagai sebuah proses perubahan yang terus-menerus, sehingga muncul gagasan ihwal sesuatu yang berkelanjutan. Ini adalah ringkasan tentang apa yang dimaksud dengan ketidakkekalan halus, namun topik kita sekarang adalah ketidakkekalan kasar.

Topik ketidakkekalan kasar ini memiliki nama lain: “Kematian.” Misalnya, cangkir pada suatu hari akan rusak dan hancur, yakni ketika kita menjatuhkannya ke lantai. Sebagai manusia, kita juga mengalami perubahan halus dari momen ke momen, sampai suatu hari kita mengalami sebuah perubahan drastis. Tubuh kasar kita berhenti berfungsi, dan demikian juga kesadaran kasar kita. Kemudian, kita pun mengalami apa yang disebut “kematian.”

Kematian adalah suatu hal yang perlu kita pikirkan, meskipun kita tidak suka menerima fakta bahwa kita harus mati. Ketika seseorang bertanya pada kita, “Apakah Anda pikir Anda akan mati atau tidak?” tentu saja kita akan menjawab, “Ya, suatu hari nanti.” Namun, jauh di lubuk hati, kita selalu berpikir sebaliknya. Pada dasarnya, kita percaya bahwa kita akan hidup selamanya. Tak seorang pun yang membayangkan bahwa dirinya akan mati hari ini. Gagasan ini berasal dari keyakinan bahwa kita bisa hidup terus-menerus, meskipun tentu saja kita takkan hidup terus sampai selamanya. Meskipun tidak ada sesuatu yang bisa membenarkan keyakinan bahwa kita tidak akan mati hari ini, tak seorang pun dari kita menyadarinya, atau bahkan sekadar mempertimbangkan fakta bahwa kita bisa mati hari ini. Buktinya, kita terus-menerus membuat perencanaan untuk masa depan. Kita memikirkan tentang apa yang akan kita lakukan besok, minggu depan, tahun depan, dan seterusnya. Sikap ini dinamakan “mencengkeram kekekalan,” yang menjadi lawan dari ketidakkekalan. Jika kita tidak waspada, kita akan terus melekat pada konsep keliru ini. Contohnya, ketika seseorang mengalami penyakit serius yang bertambah parah setiap hari, maka meskipun orang ini sudah mustahil sembuh, ia akan tetap membuat rencana-rencana; ia berharap dapat sembuh, meskipun butuh keajaiban untuk itu. Ia tetap memiliki gagasan bahwa ia akan bertahan hidup dan membuat berbagai rencana ihwal apa yang akan dilakukannya ketika sembuh nanti.

Sikap mencengkeram kekekalan membuat kita menghabiskan seluruh waktu hanya untuk membuat persiapan untuk kehidupan saat ini, bukannya kehidupan berikutnya. Kita tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kehidupan mendatang. Kita pasti mati. Kita tidak punya pilihan dan tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan ini, namun dengan persiapan yang matang, kita bisa memastikan bahwa kematian kita berjalan lancar, dan bahwa apa yang terjadi setelahnya adalah hal yang positif. Pandangan keliru tentang kekekalan adalah halangan yang sangat besar bagi persiapan kita untuk menyongsong kehidupan mendatang. Karena pandangan keliru ini, kita tak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kematian kita. Akibatnya, kita menderita kerugian yang sangat besar ketika mati.

Kita mengakui bahwa suatu hari nanti kita akan menjadi tua, sehingga kita pun mempersiapkan masa tua kita. Kita menyisihkan uang, melakukan perencanaan pensiun dan lain-lain untuk memastikan terpenuhinya aneka kebutuhan kita di hari tua. Hal ini wajar. Namun, mengapa kita tidak menerapkan logika yang sama pada kematian kita? Mengetahui bahwa kita pasti mati, mengapa kita tidak turut mempersiapkannya juga? Faktanya, adalah lebih masuk akal untuk mempersiapkan kematian kita daripada hari tua kita; tidak ada sedikit pun keraguan bahwa suatu hari nanti kita akan mati, namun dapatkah kita berkata demikian tentang usia tua? Bisa saja kita mati sebelum menua. Ketika kita merencanakan perjalanan besok pagi, tidaklah masuk akal jika kita tidak melakukan persiapan pada malam sebelumnya, karena tidak ada waktu untuk mempersiapkannya di pagi hari. Kita akan terburu-buru, dan dengan kondisi yang buru-buru, bisa saja kita melupakan beberapa barang yang dibutuhkan untuk perjalanan kita. Jika kita menyadari dengan baik bahwa besok pagi kita akan pergi, maka sangat bodoh jika kita berencana untuk tidak melakukan persiapan apa pun. Sama halnya, jika kita tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan kematian dan kehidupan setelahnya, kematian kita akan menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan.

Kematian bukanlah sekadar mimpi atau khayalan belaka. Kematian akan terjadi pada kita semua. Jadi, masuk akal jika kita menyisihkan waktu untuk memikirkannya. Jika kita merenungkan kematian, maka secara alamiah kita akan mempersiapkan diri kita untuk itu; artinya, kapan pun kematian tiba, kita sudah siap. Tidak masalah kapan ia tiba. Kita akan lebih mudah dan nyaman menghadapi kematian karena kita sudah siap dengan apa yang terjadi setelahnya. Inilah tujuan dari merenungkan kematian; ia sama sekali bukan untuk menyusahkan atau menakuti kita. Ini bukanlah topik yang menyenangkan, namun ada banyak sekali alasan untuk merenungkannya. Merenungkan kematian membawa banyak manfaat. Merenungkan kematian dan rapuhnya kehidupan ini membutuhkan perenungan terhadap 3 topik: kerugian tidak mengingat kematian, manfaat mengingat kematian, dan metode sesungguhnya untuk mengingat kematian.

Transkrip Pembabaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche di Kadam Tashi Choe Ling, Malaysia pada 2002
Transkrip selengkapnya terdapat dalam buku “Jika Hidupku Tinggal Sehari”