Tolok Ukur Berlindung


Kita sampai pada poin ketiga, ‘tolok ukur bahwa seseorang telah berlindung.’ Ini untuk memahami dari sudut mana seseorang dikatakan telah berlindung dengan efektif. Ada empat tolok ukur berlindung:

  1. Berlindung sambil menyadari kualitas-kualitas objek-objek perlindungan
  2. Berlindung sambil menyadari ciri-ciri masing-masing objek perlindungan
  3. Berlindung sambil mengenali peran khusus dari masing-masing objek perlindungan
  4. Berlindung tanpa mengakui objek-objek perlindungan yang lain.

 

1. Berlindung Sambil Menyadari Kualitas-kualitas Objek-objek Perlindungan

Tolok ukur pertama bahwa seseorang telah berlindung adalah mengambil perlindungan sambil menyadari kualitas-kualitas dari objek-objek berlindung. Ini berarti Anda perlu mengetahui kualitas-kualitas dari permata Buddha, permata Dharma, dan permata Sangha.

Dengan menyadari seluruh kualitas dari permata Buddha, permata Dharma, dan permata Sangha ini, Anda dapat mengambil perlindungan dengan pemahaman, karena Triratna memiliki kualitas-kualitas ini, jika seseorang menaruh kepercayaannya pada Triratna, maka hal tersebut akan membimbing orang tersebut untuk pertama-tama, terlindungi dari penderitaan di alam rendah, kemudian dari penderitaan samsara secara keseluruhan dan juga kedamaian pribadi. Ini adalah cara pertama kita berlindung.

Sekarang bayangkan seseorang yang tidak paham dengan kualitas permata Buddha, Dharma, dan Sangha seperti yang baru dijelaskan namun menganggap Triratna memiliki kemampuan untuk melindungi mereka. Mereka merasa yakin dengan Triratna dan berlindung padanya, namun tidak ditemukan pemahaman yang sebenarnya akan kualitas Triratna. Mari kita bandingkan cara berlindung demikian dengan seseorang yang berlindung pada Triratna setelah dia menyadari kualitas dari masing-masing ratna, seperti yang kita jelaskan tadi. Ketika seseorang memahami kualitas dari Triratna, setidaknya hingga batas seperti yang telah kita jelaskan, dia akan berkata pada dirinya sendiri, ‘Sekarang, Triratna dengan semua kualitas ini benar-benar cocok sebagai objek perlindungan. Dengan menaruh kepercayaanku pada mereka, saya akan terlindungi dengan efektif dari ketakutan ini dan itu.’ Keampuhan cara berlindung yang kedua ini dibandingkan dengan yang pertama akan berlipat, tidak hanya ratusan kali namun hingga ribuan kali, dan dia akan menjadi cara berlindung yang jauh lebih efektif dan berkekuatan.

2. Berlindung Sambil Menyadari Ciri-ciri Masing-masing Objek Perlindungan

Tolok ukur kedua dari berlindung adalah mengambil perlindungan sambil menyadari ciri-ciri masing-masing objek perlindungan atau apa yang membedakan objek perlindungan yang satu dengan yang lainnya. Ada enam kriteria yang berbeda, di mana seseorang dapat membedakan masing-masing Triratna satu sama lain.

Perbedaan pada Karakteristik Pengenalnya

Kriteria pertama adalah karakteristik sebenarnya dari masing-masing Triratna. Apa yang utamanya mencirikan seorang Buddha adalah pencerahannya yang sempurna dengan kedua aspeknya, yaitu purifikasi sempurna dan penyempurnaan kualitas bajik.

Karakteristik utama dari permata Dharma adalah dia merupakan akibat dari kehadiran Buddha di dunia. Kita tahu bahwa ketika Buddha hadir ke dunia, Beliau mengajarkan Dharma dan sebagai akibat dari penjelasannya, Dharma sebagai realisasi muncul dalam arus batin murid-muridnya, dimulai dengan kelompok lima yang unggul.

Karakteristik dari Sangha adalah dia terdiri dari individu-individu yang berada dalam proses mempraktikkan Dharma atau sedang menghasilkan Dharma dalam arus batin mereka.

Perbedaan dalam Tindakan

Kriteria kedua untuk membedakan antara Triratna yang satu dengan yang lainnya adalah aktivitas dari masing-masing permata. Aktivitas utama dari permata Buddha adalah untuk mengajarkan Dharma. Aktivitas utama dari permata Dharma adalah untuk menghilangkan kesalahan dan ketidaksempurnaan di dalam individu yang mempraktikkannya, oleh sebab itu dia membantu seseorang untuk meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Aktivitas utama dari Sangha adalah bertindak sebagai sumber inspirasi atau untuk membangkitkan semangat praktik Dharma bagi yang lain. Sangha membawa Dharma ke dalam praktik mereka sendiri dan mendapatkan hasil yang baik sebagai akibatnya. Ketika ini menjadi jelas bagi yang lain, dia akan bertindak sebagai inspirasi bagi yang lain untuk mengikuti jejak mereka. Jadi, dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa aktivitas utama dari Sangha adalah untuk menjadi teladan yang baik.

Perbedaan dalam Aspirasi

Kriteria ketiga yang membedakan masing-masing permata satu dengan yang lainnya adalah cara mereka yang berbeda dalam menjawab aspirasi individu. Bagi mereka yang beraspirasi utamanya pada latihan membuat persembahan, memberi penghormatan, dan sebagainya, permata Buddha akan memenuhi fungsi tersebut sebagai sebuah objek perlindungan.

Permata Dharma menjawab aspirasi dari para praktisi yang keinginan utamanya bukan memberi persembahan, memberi penghormatan, dan sebagainya, namun aspirasi untuk menghasilkan Dharma atau membangkitkan kualitas yang bagus di dalam diri mereka sendiri. Bagi mereka, objek utama dari perlindungan adalah Dharma.

Permata Sangha, di sisi lain, menjawab aspirasi dari mereka yang utamanya beraspirasi untuk hidup di komunitas spiritual.

Jadi, menurut tiga perbedaan aspirasi ini, kita memiliki tiga permata yang berbeda. Inilah caranya membedakan tiga permata dari sudut pandang aspirasi dari tiga kategori pengikut yang berbeda.

Perbedaan dalam Praktik

Cara keempat untuk membedakan Triratna adalah dari sudut pandang praktik. Hal ini hanya berarti penerapan dari aspirasi tersebut. Dengan kata lain, mereka yang beraspirasi untuk membuat persembahan dan memberi penghormatan akan hanya melakukan praktik tersebut dalam hubungannya dengan permata Buddha. Mereka yang beraspirasi untuk menggunakan Dharma untuk membangkitkan kualitas-kualitas yang bajik di dalam diri mereka sendiri akan mempraktikkan hanya seperti itu, dan mereka yang beraspirasi utamanya untuk hidup di dalam komunitas spiritual akan hanya melakukan itu.

Perbedaan Berkaitan dengan Ingatan

Cara kelima untuk membedakan Triratna dari sudut pandang cara yang berbeda untuk mengingat masing-masing Triratna. Ketika Anda memikirkan permata Buddha, Anda akan memikirkan kualitas-kualitas Buddha. Ketika Anda memikirkan permata Dharma, Anda akan memikirkan kualitas-kualitas dari Dharma, dan ketika Anda berpikir permata Sangha, Anda akan memikirkan kualitasnya. Untuk hal ini, terdapat sutra singkat yang menjelaskan cara untuk mengingat atau memikirkan masing-masing dari Triratna. Jika Anda tidak dapat merujuk pada sutra tersebut, Anda dapat hanya dengan mengingat kembali bahwa permata Buddha adalah seseorang yang menunjukkan perlindungan, permata Dharma adalah perlindungan yang sesungguhnya, dan permata Sangha adalah sahabat atau pendamping dalam perlindungan.

Perbedaan pada Bagaimana Kebajikan Seseorang Dapat Meningkat

Ini adalah cara terakhir untuk membedakan Triratna dan ini adalah bagaimana seseorang dapat meningkatkan kebajikannya berkaitan dengan masing-masing permata. Berhubungan dengan permata Buddha, misalnya ketika Anda mengambil perlindungan pada Buddha Sakyamuni, maka kaitannya dengan satu orang makhluk hidup sehingga orang tersebut dapat meningkatkan kebajikannya; sebagai lawannya ketika Anda mengambil perlindungan pada permata Sangha, maka kaitannya dengan beberapa makhluk hidup sehingga orang tersebut dapat mengembangkan kebajikannya. Berhubungan dengan permata Dharma, dalam kasus ini dia tidak berkaitan dengan makhluk hidup sehingga seseorang dapat mengembangkan kebajikannya, namun kaitannya dengan bukan makhluk hidup.Oleh sebab itu, Anda juga dapat meningkatkan kebajikan Anda dengan membuat persembahan pada Dharma, namun tentu saja, Dharma bukan makhluk hidup dalam kasus ini.

Perlindungan Sebab-Akibat (Kausal)

Ketika kita mengamati cara yang kedua mengambil perlindungan dengan menyadari apa yang membedakan masing-masing permata dari yang lainnya menurut enam kriteria yang berbeda ini, hal ini utamanya dilihat dari sudut pandang yang kita sebut dengan perlindungan kausal. Dengan kata lain, perlindungan kausal merujuk pada objek perlindungan yang berbeda dari arus batin orang itu sendiri. Ketika Anda berlindung pada Buddha Shakyamuni, terang bahwa Buddha Shakyamuni memiliki arus batin yang berbeda dari Anda dan itulah cara mengambil perlindungan pada Buddha sebagai latihan perlindungan kausal. Hal yang sama berlaku bagi Dharma. Ketika Anda mengambil perlindungan pada kualitas yang ditemukan pada arus batin para arya, Anda bukan menjadi arya dan oleh sebab itu, perlindungan Dharma bukanlah bagian dari Anda; dia merupakan bagian dari arus batin makhluk yang berbeda dari diri Anda sendiri. Hal yang sama berlaku bagi Sangha. Oleh sebab itu, cara berlindung kausal adalah berkaitan dengan objek yang berbeda dari arus batin Anda sendiri. Misalnya, ketika Anda berlindung pada Buddha Sakyamuni, Anda membangkitkan keyakinan padanya, memberikan persembahan, memberi penghormatan, memujinya, dan sebagainya. Dalam kasus ini, tidak ada kemungkinan bagi Anda untuk menjadi Buddha Sakyamuni karena Beliau adalah makhluk yang berbeda dari Anda sendiri.

Perbedaan Dalam Aspirasi Pengikut

Kita dapat menambahkan poin lainnya berkaitan dengan kriteria aspirasi dari pengikut dengan menarik garis lurus dengan tiga kendaraan. Diajarkan dalam Uttaratantra bahwa pengikut Mahayana utamanya akan berlindung pada permata Buddha karena aspirasi mereka utamanya adalah memberikan persembahan, penghormatan, dan sebagainya. Bagi mereka yang mengikuti kendaraan Pendengar atau Shravaka, akan bertindak sesuai aspirasi mereka, utamanya termasuk ke dalam komunitas spiritual dan terutama akan berlindung pada permata Sangha. Bagi Perealisasi Sendiri, karena aspirasi mereka utamanya adalah membangkitkan kualitas di dalam diri mereka sendiri, maka mereka terutama akan bertumpu pada permata Dharma.

Ketika Anda melihat kondisi Buddha Dharma dalam dunia sekarang ini, maka terdapat bukti mengenai apa yang baru saja disebutkan. Dalam negara di mana lazim berkembang Mahayana seperti Tibet dan China, praktik memberikan persembahan pada Buddha, memberi penghormatan, menghargai mereka, sangat kuat sekali. Sementara, di negara di mana lazim berkembang kendaraan Shravaka seperti Sri Langka, Burma dan Thailand, para praktisinya utamanya beraspirasi pada komunitas spiritual dan Sangha sangat dihormati. Bagi mereka yang mengikuti kendaraan Perealisasi Sendiri tidak secara khusus beraspirasi untuk hidup di dalam komunitas spiritual maupun secara khusus beraspirasi untuk membuat persembahan dan menghormati Triratna, khususnya Sang Buddha. Namun, aspirasi mereka adalah lebih kepada berdiam pada dirinya sendiri dan untuk melatih permata Dharma di dalam dirinya sendiri. Tidak ada bukti orang-orang yang mengikuti kendaraan ini dalam dunia sekarang ini.

Ada berbagai jenis pengikut dari kendaraan Perealisasi Sendiri. Ada satu kategori yang beraspirasi berhubungan dan membagi praktik mereka dengan yang lain. Meskipun demikian, kategori utama dari kendaraan ini adalah para praktisi yang lebih senang berdiam pada dirinya sendiri. Mereka beraspirasi untuk merealisasikan pembebasan pribadinya dalam dunia di mana tidak ada Buddha yang muncul. Lebih lanjut, mereka beraspirasi untuk merealisasikan pembebasan mereka tanpa bertumpu pada guru spiritual. Tentu saja, di masa lalunya, mereka bertumpu pada guru spiritualnya dan memeditasikan sang jalan. Namun demikian, mereka beraspirasi untuk merealisasikan tujuan akhir mereka yaitu pembebasan pribadi atau kondisi seorang arahat di tempat di mana belum ada Buddha yang muncul dan tanpa bertumpu pada seorang guru spiritual dalam kehidupan akhirnya. Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri mereka sendiri dalam kehidupan lampaunya dan ketika tiba kelahiran samsarik mereka yang terakhir, mereka mengambil kelahiran di tempat belum munculnya seorang Buddha dan mereka tidak bertumpu pada seorang guru spiritual. Ada kondisi lainnya yang membimbing tercapainya proses pembebasan mereka sepenuhnya. Mereka bisa saja menemukan dirinya dalam pemakaman di mana mereka akan melihat tulang-belulang manusia yang telah dikremasi di sana dan hal tersebut membangkitkan proses perenungan. Mereka berpikir dari mana datangnya tulang-belulang tersebut, milik siapa itu dan mereka memikirkan kembali proses lahir dan mati (dengan kata lain, mereka merenungkan dua belas asal-mula yang saling bergantungan), hal ini akhirnya akan membimbing mereka untuk merealisasikan kebenaran dan meraih pembebasan yang sempurna.

Istilah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai ‘Perealisasi Sendiri’ adalah ‘Pratyekabuddha,’ dalam bahasa Sanskerta – ‘eka’ berarti satu/tunggal, ‘buddha’ berarti realisasi atau merealisasikan, ‘praty’ berarti kondisi atau keadaan. Hal ini menjelaskan cara seorang praktisi merealisasikan tujuannya. Seperti yang telah dikatakan, karena bertemu dengan kondisi tunggal atau kondisi selama kehidupan terakhir mereka di dalam samsara seperti bertemu dengan tulang-belulang manusia di pemakaman, hal ini membangkitkan proses perenungan yang membimbing pada realisasi tertinggi mereka akan kebenaran. Inilah mengapa mereka disebut Pratyekabuddha.

Transkrip Pembabaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche di Kadam Tashi Choe Ling, Kuala Lumpur, Malaysia pada Desember 2003
Transkrip selengkapnya terdapat dalam buku “Berlindung Jld. 1”

Berlindung, Pintu Gerbang Memasuki Ajaran