Berlindung, Pintu Gerbang Memasuki Ajaran

Triratna, Objek Perlindungan Terunggul


Bagian yang kedua ini memiliki dua sub-bagian. Pertama, ‘mengenali apa saja objek perlindungan,’ kemudian ‘merenungkan alasan-alasan kelayakan mereka sebagai objek perlindungan.

Mengenali Objek Perlindungan

Anda mencari perlindungan dari penderitaan di samsara dan alam rendah, oleh karenanya Anda butuh objek perlindungan. Dengan kata lain, makhluk atau objek yang sesungguhnya dapat melindungi Anda dari apa yang Anda harapkan untuk terlindungi. Ada tiga permata (Triratna) yang merupakan tiga objek perlindungan. Jika Anda mencari perlindungan hanya dari salah satu hal yang menakutkan dalam samsara, barangkali untuk terlindungi dari hal yang Anda cari tersebut bisa hanya berlindung pada salah satu dari ketiga objek perlindungan – misalnya di dalam Sangha atau Buddha. Akan tetapi, untuk terlindungi dari penderitaan samsara secara keseluruhan dan alam rendah pada khususnya, maka kita perlu berlindung pada ketiga-tiganya – permata Buddha, permata Dharma, dan permata Sangha.

Kita butuh pertama-tama mengenali apa itu tiga permata, dimulai dengan permata Buddha. Buddha adalah seorang makhluk yang telah sepenuhnya memurnikan dirinya sendiri dari segala ketidaksempurnaan dan telah menyempurnakan semua kualitas baik hingga yang tertinggi. Istilah dalam bahasa Tibet untuk Buddha adalah ‘sang gyay’, dan dua suku kata ini berkaitan dengan masing-masing aspek berikut ini. ‘Sang’ berarti telah menyingkirkan semua ketidaksempurnaan atau mempurifikasi diri sendiri. ‘Gyay’ berarti telah melatih kualitas baik hingga yang tertinggi. Istilah dalam bahasa Sanskerta adalah Buddha. Hanya ada satu makna yang diungkapkan dalam kata tersebut, yaitu realisasi atau pemahaman sempurna. Tapi ketika istilah Buddha diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet, karena adanya perbedaan dalam bahasa, maka tidak terlalu tepat hanya menerjemahkan satu aspek yang berhubungan dengan realisasi atau pemahaman sempurna, melainkan harus mencakup juga aspek kedua dari kualitas Buddha, yaitu menambakan aspek purifikasi. Jadilah dua suku kata – ‘sang’ merujuk pada aspek eliminasi atau purifikasi dan ‘gyay’ memiliki aspek pengembangan semua kualitas hingga yang tertinggi. Inilah caranya kita dapat menjelaskan istilah ‘sang gyay,’ yang setara dengan Buddha dalam bahasa Tibet. Namun, kita juga bisa mengembangkan makna dua aspek ini menjadi satu poin yang meliputi semua ajaran Buddha.

Kita dapat mengambil contoh Buddha Sakyamuni. Sang Buddha, tentu saja, seorang Buddha. Beliau adalah makhluk hidup dan oleh karenanya, memiliki seperti yang Anda miliki: sebuah tubuh, ucapan, dan batin. Perbedaannya adalah, masing-masing aspek seorang Buddha – tubuh Buddha, ucapan Buddha, dan batin Buddha – adalah ‘Buddha,’ sementara bagi kita yang manusia biasa, Anda tidak dapat mengatakan bahwa Anda adalah tubuh Anda, Anda adalah ucapan Anda atau Anda adalah batin Anda. Tubuh Buddha adalah ‘Buddha’ karena dia sepenuhnya bebas dari semua pencemaran atau ketidaksempurnaan dan seluruh kualitas baiknya telah disempurnakan. Hal yang sama berlaku bagi ucapan Buddha dan batin Buddha. Lebih lanjut, walaupun tubuh Buddha adalah benda fisik, tapi tidak seperti tubuh Anda, ia tidak tersusun oleh substansi yang kasar dan biasa seperti keempat unsur.

Cara lain untuk memahami ‘Buddha’ adalah dengan membahas Rupakaya atau bentuk fisiknya, dan Dharmakaya. Tapi ketika kita membahas rupakaya Buddha, aspek ‘makhluk’ Beliau ini mewakili makhluk hidup, yang mana Beliau terlihat dan memiliki bentuk fisik. Dengan kata lain, ketika kita berbicara mengenai rupakaya Buddha, Anda tidak seharusnya berpikir bahwa ini merujuk pada tubuhnya saja. Dia lebih dari itu, yakni Buddha sebagai seorang makhluk hidup atau seorang arya. Misalnya, Buddha Sakyamuni adalah rupakaya. Mengapa begitu? Ini karena Anda memiliki kesempatan untuk memahami bentuk ini, Sang Rupakaya.

Di sisi lain, Dharmakaya Buddha adalah sesuatu yang tidak dapat dipahami dengan indera. Dharmakaya sendiri sebenarnya memiliki dua aspek. Pertama, dia merujuk pada batin Buddha dan juga semua kualitas Buddha – welas asih Buddha, kebijaksanaan, cinta kasih, dan sebagainya. Semua ini termasuk ke dalam satu aspek dari Dharmakaya. Oleh karena itu, segala aspek dari kualitas mental Buddha adalah Dharmakaya – welas asih Buddha adalah Dharmakaya, cinta kasih Buddha adalah Dharmakaya, dan seterusnya. Aspek Dharmakaya Buddha ini disebut Jnana-Dharmakaya (jnana berarti kebijaksanaan unggul). Karena itu, semua kualitas dari batin Buddha adalah Jnana-Dharmakaya. Aspek lain dari Dharmakaya Buddha merujuk pada, misalnya, kesunyataan Buddha atau batin Buddha (dengan kata lain, tidak adanya keberadaan yang inheren dari seorang Buddha), berikut aspek Beliau yang telah menyingkirkan semua ketidaksempurnaan. Ini menyusun aspek kedua dari Dharmakaya, yang disebut sebagai svabhavakaya.

Oleh karena itu, Buddha adalah objek perlindungan tertinggi. Sekarang kita sampai pada objek perlindungan yang kedua, yakni Dharma. Permata Dharma terdiri dari kualitas-kualitas yang ditemukan dalam arus batin seorang arya – kebijaksanaan atau pengetahuan seorang arya, juga kebenaran penghentian di dalam batin seorang arya. Bagi Anda yang pernah mendengar penjelasan ini, maka tidak begitu sulit untuk memahaminya. Namun, bagi yang belum pernah, semua ini mungkin akan sedikit membingungkan bagi Anda. Untuk itu, Anda pertama-tama harus paham dulu mengenai apa yang kita sebut sebagai makhluk biasa atau non-arya, yaitu makhluk yang belum merealisasikan kesunyataan secara langsung. Sebagai akibatnya, mereka adalah makhluk yang berputar-putar di dalam samsara melalui kekuatan karma dan kilesha mereka. Kita dapat mengatakan bahwa makhluk biasa adalah makhluk yang masih menghasilkan karma pelempar yang baru bagi kelahiran kembali di dalam samsara.

Lawan dari makhluk biasa atau non arya yang baru saja kita jelaskan tadi adalah para arya. Arya adalah makhluk yang telah merealisasikan kesunyataan secara langsung. Hasilnya, mereka berhenti mengumpulkan karma-karma baru untuk terlahir kembali di dalam samsara. Beberapa dari mereka mungkin masih mengambil kelahiran di dalam samsara, namun biar bagaimana pun, mereka tidak lagi menciptakan karma baru untuk terlahir kembali di dalam samsara. Mengapa demikian? Karena mereka telah memahami bahwa objek dari ketidaktahuan dalam bentuk sikap mencengkeram pada diri yang sejati sebenarnya tidak eksis. Dengan demikian, jenis ketidaktahuan tersebut, yakni sikap mencengkeram pada diri, kehilangan kekuatannya. Dia mungkin masih ada namun tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan karma baru bagi kelahiran kembali di dalam samsara.

Di dalam kelompok makhluk yang merupakan arya, masih ada dua jenis arya lagi. Ada arya yang, meskipun telah memahami kesunyataan secara langsung, namun mereka belum sanggup untuk benar-benar mempurifikasi diri mereka sendiri dari segala kesalahan mereka dan menyempurnakan kualitas-kualitas baik mereka. Mereka telah berhasil meraih kualitas unggul yang sangat besar, namun mereka belum menyelesaikan tugasnya. Inilah yang kita sebut sebagai arya yang bukan Buddha. Kemudian, terdapat arya jenis kedua, yang telah menyelesaikan tugasnya. Mereka telah sepenuhnya menghilangkan semua ketidaksempurnaan dan telah menyempurnakan semua kualitas baik. Dengan kata lain, arya ini adalah Buddha. Oleh karena itu, terdapat tiga kategori makhluk – non arya, arya yang bukan Buddha, dan arya yang merupakan Buddha.

Mari kita lihat lebih mendalam mengenai kategori yang kedua, arya yang bukan Buddha. Mereka juga terbagi menjadi tiga karena ada tiga jenis kendaraan. Ada kendaraan Shravaka, sehingga ada kemungkinan terdapat arya yang Shravaka atau pendengar. Berikutnya, terdapat arya yang bukan Buddha, yang termasuk ke dalam kendaraan Pratyekabuddha, sehingga mereka adalah Pratyeka atau perealisasi sendiri. Yang ketiga, terdapat arya yang bukan Buddha yang tergolong ke dalam kendaraan agung, Mahayana, dan oleh karenanya, mereka adalah Bodhisattva. Menurut apa yang baru saja kita jelaskan, sesungguhnya terdapat dua jenis arya yang berasal dari kendaraan agung atau Mahayana. Ada mereka yang bukan Buddha, dengan kata lain, yang merupakan Bodhisattva, dan kemudian ada arya Mahayana yang merupakan Buddha. Jadi, kita berbicara mengenai tiga jenis arya – arya Shravaka, arya Pratyekabuddha, dan arya Mahayana.

Kita telah menjelaskan ini agar Anda dapat memahami dengan lebih baik apa itu permata Dharma. Sesungguhnya, permata Dharma adalah kualitas-kualitas dari batin arya, apakah itu arya Shravaka, arya Pratyekabuddha, atau arya Mahayana. Kualitas-kualitas ini ada dua jenis. Pertama, mereka adalah kualitas realisasi atau pengetahuan – misalnya, pemahaman akan kesunyataan, dan bagi arya Mahayana, hal tersebut juga berupa aspirasi pencerahan yang juga merupakan kualitas realisasi dalam seorang arya, yang kemudian dikelompokkan sebagai permata Dharma. Ada kualitas-kualitas lain seperti cinta kasih, welas asih, dan sebagainya. Berikutnya, ada aspek lain dari batin arya yang juga dikelompokkan sebagai permata Dharma, dan hal tersebut adalah aspek penghapusan. Dengan kata lain, merujuk pada kenyataan bahwa mereka bebas dari ketidaktahuan, berbagai kecenderungan buruk, dan sebagainya. Hilangnya sifat-sifat buruk ini adalah apa yang kita sebut sebagai penghentian sejati. Lebih lanjut, terdapat kesunyataan dari batin seorang arya. Ini juga merupakan bagian dari permata Dharma. Kesimpulannya, permata Dharma terdiri dari kualitas-kualitas yang ditemukan dalam batin arya, dan permata Dharma adalah perlindungan atau proteksi yang sesungguhnya.

Objek perlindungan yang ketiga adalah permata Sangha. Permata Sangha yang sejati adalah makhluk hidup yang merupakan arya, non-Buddha dan Buddha. Seperti yang telah Anda lihat, ada tiga jenis arya. Ada arya Shravaka, arya Pratyekabuddha, dan arya Mahayana. Jadi, permata Sangha yang sejati adalah arya dari jenis apapun mereka – arya Shravaka, Pratyekabuddha, atau Mahayana. Bagaimana dengan sangha dalam konteks yang biasa kita pahami, mereka yang non-arya dan belum merealisasikan kesunyataan secara langsung? Mereka bisa dianggap sebagai pengganti dari permata Sangha yang sesungguhnya, yang merupakan arya. Jadi, kalau ada sekelompok empat anggota sangha yang non-arya, mereka merupakan pengganti dari Sangha sejati. Bagaimana Anda dapat memahami fungsi pengganti yang dijalankan oleh Sangha non-arya? Seperti yang telah diajarkan, kebajikan membuat persembahan kepada empat anggota sangha non-arya akan sama persis dengan kebajikan membuat persembahan yang sama kepada satu Sangha arya.

Kita telah melihat bahwa permata Dharma sejati adalah kualitas-kualitas yang ditemukan dalam arus batin seorang arya. Bagaimana dengan wujud Dharma yang biasanya cenderung kita pahami, dengan kata lain, buku-buku dan sebagainya. Mereka ini adalah bentuk konvensional dari permata Dharma yang sejati. Sama seperti empat anggota sangha non-arya berfungsi sebagai pengganti Sangha sejati, maka buku-buku Dharma yang kita miliki juga merupakan pengganti dari permata Dharma yang sejati. Jadi, prinsip yang sama juga berlaku, bahwa dengan menghormati dan membuat persembahan kepada pengganti dari permata Dharma ini, Anda akan membangkitkan kebajikan yang setara dengan membuat persembahan atau menghormati permata Dharma yang sejati.

Dari ketiga permata, Buddha adalah seseorang yang menunjukkan atau mengajarkan perlindungan. Dharma adalah perlindungan atau proteksi yang sesungguhnya. Sangha adalah sahabat pembantu dalam pengambilan perlindungan. Permata Dharma dikatakan sebagai perlindungan yang sesungguhnya karena inilah yang sesungguhnya melindungi kita dari samsara. Mengapa demikian? Karena ketika Anda merealisasikan kesunyataan secara langsung, Anda memahami bahwa objeknya adalah lawannya (ketidaktahuan yang mencengkeram pada keberadaan yang inheren) yang kenyataannya tidak eksis. Ketika Anda mengakhiri samsara Anda, Anda menghancurkan akar dari samsara Anda. Dengan demikian, kebijaksanaan atau pemahaman inilah yang melindungi Anda dari penderitaan samsara dan itulah mengapa dia adalah perlindungan yang sesungguhnya atau perlindungan sejati.

Contoh yang mungkin cukup dekat dengan Anda adalah praktik disiplin sila, yang mana dengan praktik ini Anda menahan diri dari perbuatan salah. Apa yang dilakukannya? Dia memiliki fungsi melindungi Anda dari penderitaan alam rendah. Dengan menjalankan sila atau mempraktikkan disiplin moral yang murni, Anda akan secara alami terlindungi dari penderitaan alam rendah; karena dengan menjaga sila, Anda tidak mengumpulkan sebab-sebab bagi penderitaan tersebut. Walaupun sila-sila ini bukanlah permata Dharma yang sejati, mereka bertindak dengan fungsi yang serupa karena mereka setidaknya memberikan kita perlindungan sementara dari penderitaan alam rendah. Dengan menjaga sila, Anda akan memiliki kelahiran kembali yang unggul dan tidak harus mengalami penderitaan di alam rendah pada saat itu. Sisi lain dari koin ini adalah jika Anda tidak menjaga sila dengan murni, maka Anda akan terlibat dalam ketidakbajikan dan menciptakan sebab bagi kelahiran kembali di alam rendah. Dengan begitu, bukannya terlindungi dari semua penderitaan ini, Anda malah akan mengalaminya.

Mengapa permata Sangha disebut sebagai sahabat pembantu dalam pengambilan perlindungan? Ini dikarenakan mereka menjadi suri teladan untuk diikuti, dan sebagai sumber inspirasi bagi praktik Anda.

Sebagaimana telah dijelaskan, agar terlindungi dengan efektif dari beberapa ketakutan atau bahaya kecil, tidaklah perlu untuk berlindung pada ketiga permata, satu saja sudah cukup. Namun, agar terlindungi dengan sempurna dan pasti dari segala ketakutan dalam samsara secara keseluruhan berikut kedamaian pribadi, maka penting bagi kita untuk mengambil perlindungan pada ketiga permata. Persis seperti ketika Anda sakit flu, Anda tidak benar-benar membutuhkan dokter, obat, dan perawat, hanya satu saja sudah bisa menolong. Jika Anda hanya meminum beberapa obat, Anda dapat menyembuhkan diri Anda sendiri dari flu Anda. Di sisi lain, jika Anda sakit parah, Anda akan membutuhkan ketiga-tiganya – dokter, obat, dan perawat. Agar terlindungi dengan efektif dari penderitaan di alam rendah, penderitaan samsara secara keseluruhan, dan ketakutan dari ketenangan pribadi, Anda membutuhkan permata Buddha yang menunjukkan pada Anda cara untuk meloloskan diri dari hal-hal ini, seperti seorang dokter. Anda juga membutuhkan obat-obatnya yaitu apa yang Beliau ajarkan – ini merujuk pada tahapan jalan untuk ketiga jenis makhluk yang dibimbing menuju pencerahan. Anda juga membutuhkan perawat, yang diwakili oleh Sangha, yang merupakan sahabat dalam berlindung. Hal ini menjelaskan pentingnya keseluruhan tiga permata sebagai objek perlindungan. Penjelasan ini berhubungan dengan aspek pertama dari pembahasan objek perlindungan, yaitu mengidentifikasi mereka.

 

Kelayakan Tiga Permata sebagai Objek Perlindungan

Aspek kedua dari bagian yang berhubungan dengan objek perlindungan berkaitan dengan kelayakan mereka sebagai objek berlindung; mengapa mereka pantas untuk dipercaya? Untuk menjelaskan hal ini, kita akan membahas utamanya kualitas-kualitas Buddha. Mengapa Buddha pantas menjadi objek perlindungan? Ada empat alasan berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, Buddha pantas menjadi objek perlindungan karena Buddha sendiri telah mengatasi segala ketakutannya. Kedua, Buddha sepenuhnya terampil dalam menolong orang lain untuk membebaskan diri mereka sendiri dari ketakutan mereka. Ketiga, welas asih Buddha adil terhadap semua makhluk. Alasan keempat, Buddha akan membantu semua makhluk, baik mereka yang menyakiti maupun yang membantunya.

 

1. Buddha Sendiri Telah Bebas dari Semua Ketakutan

Alasan pertama mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan adalah karena mereka sendiri telah mengatasi seluruh ketakutan mereka. Jika belum, maka bagaimana Anda dapat sepenuhnya memercayai mereka? Misalnya, Anda ingin menolong orang lain, terutama mereka yang dekat dengan Anda. Ketika Anda melihat salah satu dari orang yang Anda kasihi, apakah itu orang tua Anda, anak-anak, atau sahabat baik yang sedang berada dalam masalah, Anda ingin melindungi mereka. Namun, karena belum mengatasi keterbatasan dan ketakutan Anda sendiri, maka kekuatan Anda terbatas. Misalnya, ketika orang-orang tersebut sakit, Anda tidak dapat melakukan lebih daripada hanya berkomunikasi dengan dokter dan memastikan orang tersebut mendapatkan perawatan terbaik dan sebagainya. Anda tidak sanggup melindungi orang tersebut dengan efektif dari penyakitnya karena ketakutan dan keterbatasan Anda sendiri yang belum diatasi. Lain halnya dengan seorang Buddha; Beliau telah sepenuhnya mengatasi segala keterbatasan dan ketakutannya, oleh karenanya benar-benar sanggup menolong orang lain dengan efektif. Seperti yang telah kita katakan, Anda mungkin memiliki seseorang yang Anda kasihi yang sedang sakit parah dan Anda melakukan yang terbaik untuk menjaga orang tersebut. Anda mungkin berdiam di samping ranjangnya berjam-jam setiap hari. Anda akan sanggup melakukan hal tersebut pada jangka waktu tertentu, namun akan tiba saatnya di mana Anda mencapai batas kemampuan Anda dan Anda akan mendapati diri Anda kelelahan sehingga harus berhenti. Ini disebabkan kekuatan Anda yang terbatas, karena seluruh penghalang dan ketidakbajikan yang menghalangi dan mengekang kapasitas Anda. Seorang Buddha, di sisi lain, telah sepenuhnya menyingkirkan seluruh penghalang dan ketidaksempurnaannya; hasilnya, kekuatan Beliau tak terbatas. Beliau telah mengatasi rasa takutnya sendiri dan tidak dapat disakiti oleh faktor eksternal apapun. Dalam Jataka, kisah kelahiran-kelahiran lampau Buddha, ada banyak cerita mengenai makhluk-makhluk yang mencoba menyakiti Buddha. Namun, serangan tersebut tidak dapat menyakiti Buddha langsung karena kesempurnaan Beliau. Oleh karena itu, alasan pertama mengapa Buddha layak dipercaya adalah karena mereka telah sepenuhnya mengatasi ketakutan dan keterbatasan mereka sendiri.

 

2. Buddha Mahir dalam Cara Membebaskan Orang Lain dari Segala Ketakutannya

Alasan kedua mengapa Buddha layak dipercaya adalah karena mereka sangat mahir dalam menolong makhluk lain mengatasi ketakutan mereka. Ini adalah kualitas yang harus ada. Jika seorang makhluk telah mengatasi segala ketakutan dan kesulitan pribadinya tapi tidak memiliki keterampilan untuk menolong yang lain, maka orang tersebut tidak layak menjadi objek perlindungan karena dia tidak akan berguna bagi yang lain. Tidak demikian halnya dengan Buddha; mereka tidak hanya telah mengatasi ketakutan mereka sendiri, tapi juga sepenuhnya mahir dalam menolong makhluk lain mengatasi ketakutan mereka.

Berhubungan dengan alasan pertama mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan. Seperti yang kita katakan, ada banyak cerita mengenai hal ini dalam Jataka, serta beberapa contoh dalam Pembebasan di Tangan Kita. Akan makan banyak waktu untuk merujuk ke teks-teks ini sekarang; karena itu, Anda bisa melihat hal ini di buku Pembebasan di Tangan Kita, karya yang lain, atau dalam Jataka. Untuk alasan kedua mengapa Buddha layak sebagai objek perlindungan (kenyataan bahwa mereka sangat terampil dalam menolong orang lain), juga ada banyak cerita yang menggambarkan bagaimana Buddha menggunakan kemahirannya yang besar untuk menjinakkan batin makhluk lain. Misalnya, bagaimana Beliau sanggup menggunakan cara-cara mahir untuk mengurangi kesombongan beberapa makhluk yang sangat sombong (bangga) dan mengubah hati mereka agar bisa menerima ajaran; bagaimana Beliau sanggup menolong makhluk lain yang simpanan kebajikannya sangat terbatas dan kemudian Beliau sanggup menggunakan kemampuan tersebut dan menolong mereka. Ada banyak cerita yang menjelaskan bagaimana Buddha menggunakan kemampuannya yang besar dan sanggup menolong makhluk lain.

Seperti yang dikatakan, ada banyak cerita yang menggambarkan kemampuan luar biasa Buddha dalam menolong orang lain dan ini ditemukan di dalam sutra. Misalnya, dalam kitab Pembebasan di Tangan Kita, ada beberapa cerita yang hanya disebutkan namun tidak menceritakan kisah yang lengkap. Oleh karena itu, saya akan menceritakan salah satu dari kisah tersebut, yang berhubungan dengan perumah-tangga tua bernama Srija. Srija hidup pada zaman Sang Buddha – dia memiliki banyak anak, anak-anaknya memiliki anak lagi dan anak mereka memiliki anak lagi. Oleh karena itu, dia memiliki keluarga yang besar sekali. Anak-anaknya memperlakukannya dengan baik, lain halnya dengan cucu dan cicitnya. Karena dia adalah seorang laki-laki tua, mereka tidak terlalu menghormatinya. Bukannya bersikap baik terhadapnya, mereka malah mengolok-oloknya dan seringkali memberinya banyak kesulitan. Jadi ini adalah sebuah cerita yang harus diperhatikan oleh Anda sekalian yang merupakan generasi muda!

Jadi, cucu-cucu dan cicit-cicit ini selalu mengerjai kakek atau kakek buyut mereka. Mereka menarik pakaiannya, menggelitiknya, atau menarik telinganya. Intinya tidak membiarkan dia hidup tenang. Suatu hari, lelaki tua Srija ini benar-benar muak dan mengatakan, ‘Saya tidak tahan lagi, tidak ada yang membiarkan saya hidup tenang. Saya tidak memiliki waktu untuk istirahat dan satu-satunya cara adalah dengan meninggalkan rumahku.’ Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah, melepas keluarganya, dan pergi menghadap Sang Buddha untuk menjadi anggota Sangha dengan mengambil pentahbisan. Demikianlah, dia meninggalkan rumah dan berangkat ke taman tempat Sang Buddha dan kelompok muridnya berdiam saat itu. Dia bertemu dengan salah satu murid utama Sang Buddha, Sariputra, yang menanyakan kepadanya apa yang dilakukannya di taman itu. Srija menjelaskan bahwa dia tidak tahan lagi tinggal di rumah dan ingin mengambil pentahbisan menjadi anggota Sangha. Sariputra berkata, ‘Sebagai anggota Sangha, Anda akan memiliki berbagai tugas yang harus dipenuhi. Anda harus belajar, meditasi, dan melayani anggota Sangha yang lain. Anda sudah tua sekarang, bagaimana mungkin Anda sanggup melakukannya?Tidak mungkin bisa.’ Tentu saja, perumah-tangga Srija sangat kecewa, tapi dia tidak menyerah karena dia kemudian pergi mencari arahat yang lain. Dia berpikir mungkin jika dia memilih arahat yang lebih tua, maka dia akan memiliki cara pandang yang berbeda. Jadi, dia pergi mencari arahat Kasyapa, tapi tentu saja dia mendapatkan jawaban yang sama; bahwa dia terlalu tua dan tidak mungkin baginya untuk bergabung dengan Sangha. Setelah mencoba beberapa arahat, dia benar-benar sangat kecewa dan frustasi dan mengatakan, ‘Apa lagi yang dapat kulakukan?Tidak ada dari mereka yang mau mendengarkanku.Tidak ada jalan lain. Saya tidak bisa pulang ke rumah dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah membunuh diriku sendiri!’ Dia memutuskan untuk meloncat ke sungai. Ketika dia telah sampai pada kesimpulan ini, di mana dia benar-benar frustasi dan berpikir untuk bunuh diri, Sang Buddha membaca pikirannya dan datang ke tempatnya berada, menanyakan apa yang terjadi. Srija menjelaskan bagaimana dia sebenarnya sangat menginginkan pentahbisan dan menjadi anggota Sangha; dan bagaimana semua orang di dalam sangha menolak permohonannya. Sang Buddha mengatakan, ‘Tidak masalah, mereka adalah pengikutku; mereka bukan Buddha. Tidak seperti diriku, mereka tidak menghabiskan tiga kalpa tak terbatas untuk mengumpulkan kebajikan. Oleh karena itu, meskipun mereka menolakmu, saya tidak akan.

Demikianlah, dia mengambil pentahbisan dan menjadi bagian dari persamuan Sangha. Namun setelah menjadi seorang biksu yang baru, dia mendapati dirinya berada di antara sramanera-sramanera yang lebih muda, yang berarti dia menemukan dirinya kembali pada situasi yang sama seperti dia berada di rumah. Biksu yang lebih muda senang mengerjainya, menarik pakaiannya, menarik telinganya dan membuatnya susah. Jadi, sekali lagi, mantan perumah-tangga ini frustasi. Dia mengatakan, ‘Tak peduli apapun yang kulakukan, tidak ada solusinya. Di rumah, cucuku membuatku susah. Sekarang bahkan setelah mengambil pentahbisan, sramanera yang muda tidak memberiku ketenangan. Saya benar-benar berada di situasi yang sama. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan dalam kehidupan sekarang ini karena saya terlalu tua. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain selain membunuh diriku sendiri.’ Jadi dia pergi ke tepi sungai besar dan melepaskan jubah monastiknya atau chögä. Dia menggantungnya di cabang sebuah pohon dan bersujud tiga kali ke arah Sang Buddha berdiam. Dia berdoa bahwa setelah menyadari dalam kehidupan sekarang ini dia tidak dapat meraih apapun, maka sekarang dia akan mati dan berdoa bahwa dalam kehidupannya yang akan datang dia bisa segera mengambil pentahbisan menjadi anggota Sangha yang sepenuhnya baru dan mempraktikkan Dharma.

Sesungguhnya, setelah memberinya pentahbisan, Sang Buddha telah meminta murid utamanya, Maudgalyayana, menjaga pria tua ini. Karena Maudgalyayana memiliki kewaskitaan, dia menggunakannya untuk mengetahui bahwa Srija sedang berada di tepi sungai, hendak terjun. Dia dengan segera pergi ke tempat pria tua tersebut berdiri dan mengatakan, ‘Jangan! Apa yang kamu lakukan?’ Biksu tua tersebut kemudian menjelaskan dan Maudgalyayana mengatakan, ‘Anda tidak seharusnya melakukannya. Saya akan menolong Anda. Berpeganglah pada jubah monastik saya.’ Dengan menggunakan kekuatan gaibnya, Beliau membawanya ke sebuah pulau. Mereka mendarat di atas tulang rangka seekor binatang besar dan duduk di sana. Maudgalyayana bertanya padanya, ‘Apakah Anda tahu tulang rangka siapakah ini?’ Tentu saja, biksu tua tersebut menjawab, ‘Tidak, saya tidak tahu.’ Kemudian Maudgalyayana menjelaskan padanya bahwa sesungguhnya itu adalah tulang rangka dirinya dalam kehidupan yang lampau. Dia telah terlahir di alam rendah sebagai monster laut raksasa. Beliau menjelaskan proses keseluruhan yang menyebabkannya berada di sana – bagaimana melalui perbuatan yang tidak bajik, dia telah dilempar untuk terlahir dengan bentuk yang lebih rendah sebagai seekor binatang; bagaimana dengan karma lainnya, dia telah terlahir sebagai manusia dalam kehidupan sekarang ini. Beliau menjelaskan keseluruhan sistem karma dan ke-saling-tergantungan. Alhasil, sang biksu tua Srija mampu memahami hakikat sejati dari kenyataan dan sanggup merealisasikan tingkatan arya yang disebut pemasuk arus. Hasilnya, dia juga memperoleh kekuatan gaib dan sanggup kembali ke tempat di mana Sang Buddha berdiam, dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Ketika anggota Sangha yang lain melihat ini, mereka mengatakan, ‘Oh, lelaki tua ini, lihat apa yang telah dilakukannya.Sungguh menakjubkan bahwa dia sanggup meraih tingkatan ini.

Setelah melihat kejadian ini, kumpulan pengikut Sang Buddha memohon penjelasan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak sanggup merasakan kumpulan kebajikan sedikit pun pada lelaki tua ini. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak mengizinkannya mengambil pentahbisan. Mereka bertanya kepada Sang Buddha bagaimana caranya dia bisa meraih kebajikan yang cukup dalam kehidupan sekarang ini untuk merealisasikan tingkatan arya yang disebut pemasuk arus ini. Sang Buddha menjelaskan bahwa dahulu kala di masa lampau, berkalpa-kalpa sebelumnya, dalam masa Buddha sebelumnya, makhluk ini, yang sekarang perumah-tangga Srija, telah terlahir sebagai seekor lalat. Ketika itu ada sebuah stupa. Hujan turun sangat derasnya dan stupa tersebut dikelilingi oleh air. Lalat ini tanpa sengaja mendarat di sebuah gundukan kotoran kuda yang kering. Melalui aliran air tersebut, lalat ini kemudian dibawa berkeliling (pradaksina) stupa tersebut di atas gundukan kotoran kuda kering tersebut. Sebagai hasilnya, kebajikan yang telah dia kumpulkan dari kejadian ini telah matang pada kehidupan sekarang ini dan membuatnya bisa mengambil pentahbisan dan mencapai tingkatan seorang arya. Ternyata kumpulan kebajikan tersebut sangat kecil sehingga tidak terasa oleh para pengikut Sang Buddha. Hanya persepsi dan kebijaksanaan Buddha yang unggul-lah yang membantu Beliau bisa merasakan elemen kebajikan ini di dalam diri lelaki tua tersebut. Ketika lelaki tua ini terlahir sebagai seekor lalat, dia tidak melakukan pradaksina keliling stupa dengan sengaja. Hal tersebut dilakukan tanpa sadar, namun tetap saja cukup baginya untuk bisa membangkitkan jumlah kebajikan tertentu yang mengantarkannya kepada hasil yang seperti kita lihat bersama. Ini berarti bahwa ketika Anda, dengan kehendak dan kesengajaan, membuat persembahan, memuji, dan memberi penghormatan pada para Buddha, maka kebajikan yang Anda bangkitkan tak terkatakan.

3. Buddha Bertindak dengan Welas Asih dan Keadilan yang Besar Bagi Siapa Saja

Kita telah melihat dua alasan mengapa Buddha adalah objek berlindung yang layak. Pertama, Beliau telah mengatasi segala ketakutan pribadinya dan yang kedua, Beliau sepenuhnya terampil dalam menolong orang lain membebaskan diri mereka sendiri dari penderitaannya. Sekarang, jika seseorang memiliki dua kualitas ini, tapi perasaan welas asihnya tidak adil; jika dia memiliki perasaan welas asih hanya kepada mereka yang dia senangi dan tidak kepada mereka yang tidak disukai, maka meskipun kedua kualitas pertama tadi dimiliki, dia tidak akan layak dipercaya. Namun, ini bukan kasus yang terjadi bagi seorang Buddha. Welas asih Buddha bersifat universal dan adil terhadap semuanya. Beliau memiliki seorang putra bernama Rahula dan seorang sepupu bernama Devadatta, yang selalu mencoba menjatuhkan Buddha, menghalang-halanginya, atau menyakiti Buddha dengan berbagai cara. Namun, terhadap keduanya, Sang Buddha memiliki perasaan welas asih yang persis sama. Dalam kitab Pembebasan di Tangan Kita, dijelaskan bahwa Sang Buddha tidak memperlakukan putranya, Rahula, lebih baik daripada sepupunya, Devadatta. Ketika Devadatta memakan minyak pengobatan tertentu dan jatuh sakit dalam rangka ingin membuka kedok Sang Buddha, Sang Buddha malah mampu menyembuhkannya hanya dengan memanjatkan sebuah sumpah kebenaran. Dengan kata lain, berjanji bahwa cintanya pada Rahula dan Devadatta adalah setara. Ceritanya tidak terlalu jelas. Kisahnya menceritakan tentang Devadatta yang memakan apa yang diterjemahkan sebagai ‘minyak pengobatan,’ tapi itu sebenarnya adalah mentega obat. Itu adalah persiapan khusus yang dibuat dokter sebagai sebuah jenis vitamin untuk meningkatkan energi dan tenaga seseorang. Dokter-dokter Tibet juga meramu obat ini, yang terbuat dari susu konsentrat, mentega, madu, dan bahan-bahan obat lainnya yang dimasak bersama-sama, dikeringkan, dan dikemas dalam bentuk kapsul. Ramuan ini sudah ada sejak zaman Sang Buddha, dan salah satu pengikutnya, karena keyakinannya yang besar, telah mempersembahkan ini kepada Sang Buddha. Sang Buddha menerima persembahan tersebut dan memakannya. Sesungguhnya, Beliau makan lebih dari dosis yang biasanya. Seperti yang kita katakan, sepupunya selalu mencoba mengerjai Buddha dan membuka kedoknya sebagai manusia biasa. Dia mengatakan, ‘Makan obat ini berlebihan tidak ada apa-apanya. Saya juga sanggup melakukan hal yang sama,’ dan dimakannya dalam jumlah banyak. Akibatnya, dia jatuh sakit. Dalam kasus ini, apa yang Sang Buddha lakukan adalah membuat sebuah sumpah dengan mengatakan, ‘Jika cintaku untuk putraku adalah persis sama dengan cintaku untuk Devadatta, maka semoga Devadatta sembuh.’ Karena cintanya buat keduanya setara, maka itulah yang persis terjadi dan Devadatta sembuh dari penyakitnya. Demikianlah kita dapat memahami bahwa itulah alasan lainnya mengapa Sang Buddha layak menjadi objek perlindungan, karena welas asihnya yang universal dan setara bagi semuanya.

4. Buddha Bertindak Demi Kepentingan Setiap Orang, Baik Mereka yang Menguntungakannya Maupun Tidak

Alasan keempat mengapa Buddha layak menjadi objek perlindungan adalah, tanpa memperhatikan apakah makhluk tersebut menguntungkan atau menyakitinya, Buddha tetap akan bertindak demi kepentingan semua makhluk. Kita tahu ini adalah sesuatu yang cukup sulit bagi kita. Kita lebih mudah menolong mereka yang telah membantu kita. Kita memiliki kecenderungan meninggalkan mereka yang tidak melakukan apapun bagi kita atau yang menyakiti kita. Bagi seorang Buddha, tanpa memperhatikan apakah makhluk hidup tersebut melakukan sesuatu yang menyenangkan maupun menyakitinya, Beliau akan menolong mereka semua. Jika tidak demikian, maka sekali lagi, berarti Buddha tidak dapat benar-benar diandalkan dan kita tidak dapat mengganggap Beliau sebagai objek perlindungan yang layak. Karena empat alasan inilah, maka Buddha adalah objek perlindungan paling unggul.

Transkrip Pembabaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche di Kadam Tashi Choe Ling, Kuala Lumpur, Malaysia pada Desember 2003
Transkrip selengkapnya terdapat dalam buku “Berlindung Jld. 1”

Berlindung, Pintu Gerbang Memasuki Ajaran