Berita

Kembalinya Ajaran Warisan Sriwijaya

Belahan bumi timur telah lama menjadi sumber spiritualitas kuat yang menghasilkan tradisi-tradisi hebat. Praktik nilai-nilai timur telah terbukti mengangkat kualitas manusia yang sebenarnya berdasar pada kebaikan hati. Salah satu tradisi timur terhebat adalah silsilah emas Suwarnadwipa yang berakar dari kerajaan kuno Sriwijaya (sekarang terletak di provinsi Sumatera Selatan, Indonesia) yang masyhur di abad ke-11. Masa-masa puncak praktik ini di Kerajaan Sriwijaya tercatat dalam catatan perjalanan I-Tsing, biksu Tiongkok yang singgah di Sriwijaya beberapa kali di perjalanan menuju dan dari India.

Pada masa itu, pelajar yang ingin belajar di India disarankan untuk singgah di Sriwijaya untuk mempelajari Bahasa Sansekerta dan pelajaran pengantar sebagai persiapan untuk masuk ke Nalanda, universitas monastik Buddhis tertua di dunia. Selain Sriwijaya, sejarah juga mencatat kerajaan besar lain yang mewarisi tradisi agung ini, yaitu kerajaan Majapahit di abad ke-14. Kerajaan ini merupakan tempat Buddhadharma dan Hindu Siswa dipraktikkan dengan sepenuh hati dan hidup berdampingan dengan harmonis. “Bhinneka Tunggal Ika”, sebuah pepatah bahasa Kawi yang sekarang menjadi slogan Indonesia dengan terjemahan “berbeda-beda namun tetap satu”, dikutip dari karya kesusasteraan agung yang disusun pada zaman Majapahit.

Tentunya “Bhinneka Tunggal Ika” bukan satu-satunya ajaran yang diwariskan oleh leluhur bangsa. Ada satu ajaran spesial yang dimiliki Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya yang membuat pencari Dharma dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke Sumatera, termasuk guru besar dari India Atisa Dipankara yang nantinya dikenal luas sebagai sosok reformator Buddhadharma Tibet. Ajaran ini diwariskan oleh Guru Suwarnadwipa kepada Guru Atisa, kemudian dibawa oleh Guru Atisa ke Tibet dan berkembang di sana. Di Tibet, ajaran ini dikenal dengan istilah “Tong Len”. Dalam bahasa kita, ajaran ini merupakan sesuatu yang sudah sangat sering kita dengar dan kita gunakan setiap hari, yaitu “Terima Kasih”. Ini mengingatkan kita akan istilah dalam bahasa Indonesia “Terima Kasih” yang berasal dari bahasa Melayu. Seperti yang diketahui lewat peninggalan sejarah, bahasa Melayu merupakan bahasa kenagaraan dari Sriwijaya. Mungkinkah ini warisan dari Sriwijaya?

Dalam ajaran Guru Suwarnadwipa, “Terima” berarti menerima atau menarik semua penderitaan makhluk lain sementara “Kasih” berarti memberikan kebahagiaan atau hal-hal baik lainnya kepada makhluk lain. Meditasi “Terima Kasih” merupakan praktik untuk melatih welas asih, elemen yang mendasari batin pencerahan atau “Bodhicita” yang merupakan benih dari Kebuddhaan. Melalui “Terima Kasih”, Guru Suwarnadwipa mengajarkan bangsa kita untuk mengurangi sikap mementingkan diri sendiri yang merupakan akar dari penderitaan kita dan sebaliknya mengembangkan sikap mementingkan orang lain, berusaha menarik penderitaan mereka dan menghadiahkan kebahagiaan kepada mereka.

Ajaran “Terima Kasih” ini tentunya bukanlah satu-satunya warisan bajik dari leluhur bangsa Indonesia. Sangatlah mungkin praktik welas asih yang dikembangkan oleh Guru Suwarnadwipa turun kepada kita dalam bentuk tradisi-tradisi hebat dengan nilai-nilai bajik seperti kasih sayang, perhatian, hati bajik, rasa hormat, sopan santun, dan ramah-tamah, yang bergabung menciptakan dunia spiritual positif yang memungkinkan rakyat hidup dalam kedamaian dan harmoni. Beberapa nilai yang dapat kita temui sekarang ini antara lain:

  1. “Terima Kasih” – seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebuah metode untuk membangkitkan semangat pencerahan bodhicita.
  2. “Kasih Sayang” – ungkapan yang umum digunakan untuk menggambarkan rasa sayang, merupakan gabungan dari kata “kasih” yang bermakna “memberi” dan kata “sayang” yang berarti menganggap seseorang berharga sehingga kita ingin membahagiakannya. Penggabungan 2 kata ini menjadi satu ungkapan bisa jadi menggambarkan rasa sayang yang diwujudkan dengan memberikan segala yang kita miliki demi kebahagiaan orang lain. Makna ini menggambarkan cinta yang tulus dan bebas dari ego–cinta kasih universal yang di dunia Buddhis dikenal dengan istilah “metta”.
  3. “Ramah-Tamah” – sikap santun dan bersahabat kepada orang lain, baik yang dikenal maupun yang belum dikenal. Sikap ini bisa jadi merupakan perwujudan dari praktik “terima kasih” dan “kasih sayang” dalam bentuk tindakan, yaitu memikirkan kondisi orang lain serta memberikan perlakuan yang terbaik kepada mereka agar mereka nyaman dan bahagia.
  4. “Spiritualitas” – tradisi yang mengutamakan batin atau hati yang baik alih-alih benda materi seperti harta dan penampakan luar. Welas asih dan sikap-sikap turunannya seperti terima kasih, kasih sayang, ramah tamah, dan sebagainya merupakan kualitas batin, bukan materi. Kita senantiasa diajarkan untuk menerapkan sikap ini kepada siapapun tanpa memandang penampilan, kekayaan, atau status sosial orang tersebut.

Ajaran Guru Suwarnadwipa dibawa oleh Guru Atisha ke Tibet, dipraktikkan secara luas di sana, dan diwariskan turun-temurun dalam silsilah tak terputus dari guru ke murid yang dapat ditelusuri hingga Sang Buddha sendiri. Di masa sekarang ini, ahli waris ajaran ini adalah Yang Mulia Dagpo Rinpoche Jampel Jhampa Gyatso, guru Buddhis autentik yang telah menginspirasi praktisi Dharma di berbagai belahan dunia dan diyakini sebagai kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti sendiri berdasarkan pengukuhan dari Yang Maha Suci Dalai Lama XIV. Sejak tahun 1989, Guru Dagpo Rinpoche telah ‘pulang’ ke Bumi Nusantara guna mengembalikan ajaran mulia Guru Suwarnadwipa kepada bangsa Indonesia.

Selama 30 tahun, Guru Dagpo Rinpoche tanpa lelah mengajarkan Dharma yang menyeluruh di Indonesia, mulai dari membangkitkan motivasi, praktik pendahuluan yang juga dilakukan pada masa Guru Suwarnadwipa di Sriwijaya dulu, hingga topik-topik filsafat yang mendalam yang diperlukan untuk menyempurnakan kebijaksanaan. Beliau tak pernah lupa mengingatkan kita semua untuk berlatih mengurangi sikap mementingkan diri sendiri dan lebih banyak memikirkan orang lain, sejalan dengan prinsip ajaran “Terima Kasih”. Secara khusus, Guru Dagpo Rinpoche mengajarkan langsung praktik “Terima Kasih” berdasarkan ajaran Guru Suwarnadwipa dalam rangkaian retret dan pengajaran Dharma di Southeast Asia Lamrim Festival 2014 di Bandung.

Di masa sekarang ini, nilai budaya luhur dari welas asih yang diwariskan oleh leluhur kita mungkin telah mengalami pengenceran makna. Ramah tamah dan ucapan terima kasih tak selalu dilakukan dengan penuh kesadaran akan maknanya yang mendalam, melainkan sekedar formalitas belaka. Namun, kita masih berkesempatan mempelajari apa yang diajarkan Guru Suwarnadwipa di masa keemasan Nusantara dari Guru Dagpo Rinpoche.  Dengan mempelajari dan merenungkan ajaran-ajaran ini, welas asih kita akan tumbuh sikap egois akan berkurang. Pemimpin-pemimpin akan lebih memikirkan rakyat dan mengesampingkan ambisi pribadi.

Tidak ada lagi korupsi karena tak ada dorongan kuat untuk memperkaya diri tanpa peduli akan kesejahteraan orang lain. Tak akan ada lagi peperangan karena bangsa-bangsa memilih untuk saling melengkapi alih-alih saling menghancurkan. Hidup akan menjadi bahagia dan bermakna karena semua orang saling menjaga dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Maka dari itu, mari kita sambut kebaikan hati Sang Guru dengan mempelajari, merenungkan, dan membagikan Dharma yang Beliau ajarkan seluas-luasnya demi menciptakan dunia yang damai dan berbahagia.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *